Jumat, 10 April 2026

IDAI Ingatkan Bahaya Child Grooming, Minta Orang Tua Lebih Peduli

IDAI mengingatkan child grooming adalah manipulasi psikologis yang berpotensi berujung kekerasan seksual pada anak.

Penulis: Nur Ika Anisa | Editor: Cak Sur
istimewa/Tangkapan layar
CHILD GROOMING - Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) selaku Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang membahas terkait child grooming melalui daring yang diikuti SURYA.co.id, Selasa (31/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • DAI menyebut child grooming adalah manipulasi emosional bertahap yang sering tidak disadari.
  • Praktik ini berpotensi berujung pada kekerasan seksual terhadap anak.
  • Peran orang tua penting agar anak tidak mudah terjebak pelaku, terutama di era digital.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYAIkatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan, bahwa child grooming bukan sekadar perkenalan biasa, melainkan proses manipulasi emosional yang berbahaya bagi anak.

Grooming Terjadi Diam-diam dan Bertahap

Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K), menjelaskan bahwa grooming sering kali tidak terlihat atau bersifat silent.

“Sebetulnya itu manipulasi psikologis yang secara tertata sistematis membangun kedekatan emosi, kedekatan kepercayaan, yang nantinya dijadikan korban eksploitasi seksual,” ujar dr Piprim, Selasa (31/3/2026).

Ia menambahkan, proses ini terjadi perlahan sehingga anak tidak menyadari dirinya sedang menjadi target.

Anak Kerap Menganggap Pelaku Sosok Peduli

Menurut dr Piprim, pelaku biasanya membangun hubungan emosional hingga anak merasa nyaman dan percaya. Bahkan, tidak jarang anak menganggap pelaku sebagai sosok yang perhatian.

  • Terjadi melalui pendekatan emosional dan kepercayaan.
  • Mengandung manipulasi psikologis.
  • Dilakukan secara bertahap (tidak instan).
  • Ada proses desensitisasi terhadap perilaku seksual.
  • Memanfaatkan kelengahan keluarga dan lingkungan.

“Bagaimana perhatian di keluarga harus diberikan kepada anak-anak, jadikan mereka teman, sahabat, apalagi saat remaja. Jangan sampai anak-anak haus kasih sayang, sehingga mudah termanipulasi orang yang pura-pura mendukung,” jelasnya.

Ancaman Meningkat di Era Digital

Sementara itu, anggota Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Dr dr Ariani, SpA, Subsp TKPS(K), mengingatkan bahwa kasus grooming semakin rawan terjadi di era digital.

Anak-anak yang aktif menggunakan gadget menjadi lebih rentan, karena interaksi dengan orang asing semakin mudah.

“Berbeda dengan ancaman fisik yang cenderung jelas, grooming justru terjadi secara halus, terencana, dan melalui tahapan tertentu,” ujarnya.

Dokter Ariani menegaskan, tujuan akhir dari grooming adalah eksploitasi seksual.

“Sebenarnya ujung-ujungnya untuk manipulatif kekerasan seksual,” sebutnya.

Orang Tua Diminta Lebih Waspada

Dokter Ariani juga menekankan pentingnya peran keluarga dalam mencegah grooming. Kurangnya perhatian dan pengawasan bisa dimanfaatkan pelaku.

“Pada child grooming ini sering kali memanfaatkan ketidaktahuan korban, maupun kelalaian lingkungan. Prosesnya bertahap, tidak serta merta dalam satu waktu atau satu jam,” jelasnya.

“Pelaku perlahan mendekati dan memanipulasi psikologis. Tujuannya agar anak tidak tahu batasan normal, yang tidak boleh diperbolehkan, dan akhirnya menciptakan peluang eksploitasi,” tutup dr Ariani.

 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved