Rabu, 29 April 2026

Siloam Oncology Summit 2025, Kedokteran Nuklir Berpotensi Jadi Harapan Baru dalam Terapi Kanker

MRCCC Siloam Hospitals Semanggi mengembangkan inovasi penanganan kanker melalui pelaksanaan Siloam Oncology Summit (SOS) 2025.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: irwan sy
MRCCC
PENANGANAN KANKER - Dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Konsultan Nuklir Onkologi MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, dr Ryan Yudistiro SpKN(K) MKes FANMB PhD (kiri) bersama ⁠⁠Dokter National Cancer Institute - Anthoni van Leeuwenhoek Netherland, Prof Marcel PM Stokkel MD PhD (kanan) sesaat setelah memaparkan materi pada sesi Plenary 3 yang menjadi rangkaian kegiatan Siloam Oncology Summit (SOS) 2025. 

Penelitian untuk pengobatan limfoma masih terus dilakukan, baik dengan obat-obatan baru ataupun menggunakan kombinasi baru dari obat-obatan yang sudah ada.

“Saya percaya, ada prioritas riset untuk pengobatan limfoma di Asia. Kita butuh lebih banyak peluang edukasi, workshop, internship, dan fellowship. Saya menyambut seluruh ahli dalam bidang limfoma untuk saling berbagi ilmu di komunitas limfoma Asia,” pungkas dr Jason.

Peneliti dan Dokter University of Wollongong Australia, Prof David Currow FAHMS, FRSN sebagai pembicara kedua memberikan materi tentang sesak napas (breathlessness) sebagai sesuatu yang silent tetapi mematikan.

"Sesak napas atau kesulitan bernapas (breathlessness) sering diabaikan oleh tenaga kesehatan," ujar Prof David.

Padahal, kondisi ini sangat memengaruhi kualitas hidup pasien bahkan berdampak pada kondisi mental.

Sesak napas kronis dalam dunia kedokteran termasuk baru untuk didefinisikan, yaitu pada tahun 2017.

Menurut Prof David, ada beberapa aspek penting dari definisi ini. Pertama, garis waktu tidak diperlukan.

Ini tidak seperti nyeri yang dikategorikan saat individu harus merasakan nyeri selama X bulan atau X tahun, sebelum kita menyebutnya nyeri kronis.

"Kesulitan bernapas tetap ada meskipun pengobatan dan penyebab yang mendasarinya telah dioptimalkan. Bagian penting dari definisi sesak napas kronis adalah menyebabkan disabilitas pada pasien," papar Prof David.

Karena tidak mendapat penanganan dengan baik untuk keluhannya, sebagian besar pasien sesak napas kronis 'beradaptasi' dengan mengurangi pengeluaran energinya agar bisa bernapas dengan baik.

Padahal, faktanya mereka tidak dapat melakukan sebagian besar kegiatannya.

Dalam survei, banyak pasien yang menghindari keluar rumah karena merasa terlalu sesak untuk berganti pakaian.

Kegiatan lain juga dihindari, termasuk aktivitas fisik intensitas rendah dan aktivitas seksual.

"Banyak profesional kesehatan tidak menanyakan tentang keluhan ini pada pasiennya. Dokter cenderung akan menanyakan tentang diare, pola BAB, rasa nyeri, dan pola tidur, tapi tidak menanyakan tentang sesak napas," lanjut Prof David.

Sesak napas ini adalah prediktor prognosis yang jauh lebih baik daripada volume ekspirasi paksa untuk penderita penyakit paru obstruktif kronik.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved