UMKM Jawa Timur
Kisah Inspiratif Sunarko: 30 Tahun Berjuang Membangun Usaha Tape Singkong di Blitar
Sunarko (57), warga Dusun Pangkru, Desa Bendowulung Blitar dengan gigih mempertahankan warisan kuliner tradisional
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Adrianus Adhi
SURYA.co.id, Surabaya - Sunarko (57), warga Dusun Pangkru, Desa Bendowulung Blitar dengan gigih mempertahankan warisan kuliner tradisional. Ia telah menghabiskan hampir tiga dekade menggeluti usaha produksi tape singkong.
Perjalanannya tidak selalu mulus. Seperti roda yang berputar, ia telah merasakan jatuh bangun dalam bisnis ini. Namun, tekad dan kerja kerasnya membuahkan hasil—kini usahanya terus berkembang, bahkan menjadi salah satu penyokong ekonomi warga sekitar.
Sunarko memulai produksi tape singkong sejak 1994. Awalnya, ia hanya menjajakan hasil produksinya di Pasar Templek.
Ketika pasar direlokasi, pelanggannya pun berkurang. Ia sempat berhenti berjualan dan memilih merantau ke Kalimantan pada tahun 2000.
"Sempat jadi kenek bus, lalu naik jabatan jadi sopir. Tapi hati saya selalu rindu pada usaha tape warisan keluarga," kenangnya kepada SURYA.co.id
Tujuh tahun bekerja di tanah rantau, Sunarko memutuskan pulang ke Blitar.
Dengan tabungan yang dikumpulkannya, ia membangkitkan kembali usahanya.
Di halaman rumahnya, Sunarko bersama istri (Siti Nafiah, 55) dan anak bungsunya (Oktavia, 20) bekerja sama memproduksi tape.
Prosesnya masih sangat tradisional: Mulai dari mengupas & mencuci singkong, lalu merebus dengan Kayu Bakar, termasuk melakukan Fermentasi dengan Ragi

Dengan cara itu, perlahan tapi pasti, produksinya meningkat. Kini, ia membutuhkan tiga kuintal singkong setiap hari untuk memenuhi permintaan pasar.
Tak hanya itu, Sunarko juga memperkerjakan warga sekitar untuk membantu usahanya ini.
Para tetangga membantu mengupas singkong, lalu kulit singkong dipakai untuk pakan sapi maupun kambing milik para tetangga yang membantu.
Dari Sepeda Motor ke Mobil Pickup: Semangat untuk Berkembang
Awalnya, Sunarko mengangkut singkong dan tape hanya dengan sepeda motor. Namun, seiring usia, tenaganya tak lagi sekuat dulu. Ia pun mengambil Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI senilai Rp50 juta untuk membeli mobil pickup.
Cerita QRIS BRI Bantu Penjualan Kampung Klepon di Desa Bulang, Kecamatan Prambon, Sidoarjo |
![]() |
---|
Menengok Kampung Klepon di Desa Bulang Sidoarjo, Sudah Turun Temurun |
![]() |
---|
Kisah Ajiz Sugandi sebagai Agen BRILink di Sumenep Madura: Ini Bukan Bisnis Tapi Pengabdian |
![]() |
---|
Keajaiban Sentra Wisata Kuliner Tunjungan Surabaya: Memberdayakan Perempuan, Menggerakkan Ekonomi |
![]() |
---|
Nama Klaster Ternak Bebek BRI di Buduran Sidoarjo ini Unik, Ternak Tiktok |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.