Ide Kreatif Kurangi Polusi Udara di Bumi, Siswa Kelas 6 Sampoerna Academy Ciptakan 3-in-1 Tree

STEAM adalah perjalanan berkelanjutan yang mempersiapkan siswa untuk menjadi inovator dan pemecah masalah masa depan

|
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Deddy Humana
Sampoerna Academy
STEAM COMPETITION 2025 - Para pelajar Sampoerna Academy Surabaya memperlihatkan proyek 3-in-1 Tree yang lolos di STEAM Competition 2025 pada 15 Maret 2025, berfokus pada green technology and sustainability yang pertama kalinya berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). 

SURYA.CO.ID, KOTA SURABAYA - Sampoerna Academy sebagai pionir STEAM dan penyedia pendidikan kelas dunia kembali menggelar STEAM Expo 2025 yang berfokus pada green technology and sustainability (teknologi hijau dan berkelanjutan).

STEAM Expo ini untuk kali pertama berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan diselenggarakan secara serentak di seluruh kampus Sampoerna Academy.

Acara tahunan ini bertujuan untuk mengundang para inovator muda agar dapat menunjukkan hasil pembelajaran STEAM yang telah didapatkannya di sekolah.

Anushia Senthevadivel selaku Principal Sampoerna Academy Surabaya Grand Pakuwon Campus mengatakan, setiap tahunnya para siswa Sampoerna Academy ditantang berinovasi sambil menunjukkan hasil pembelajaran STEAM yang didapatkan di sekolah melalui karya inovatif yang berfokus pada teknologi hijau dan berkelanjutan.

"Kemudian, proyek mereka akan dikurasi oleh para juri dan dipamerkan secara publik kepada orangtua juga seluruh siswa selama STEAM Expo yang diselenggarakan serentak di seluruh kampus Sampoerna Academy," kata Anushia  Sabtu (8/3/2025).

STEAM Expo 2025 mengangkat tema “Rethink, Recycle, Innovate”, di mana Sampoerna Academy ingin memotivasi para siswa untuk menunjukkan hasil dari pembelajaran STEAM melalui karya inovatif yang berfokus pada teknologi hijau dan berkelanjutan. 

Salah satunya adalah proyek 3-in-1 Tree karya Aireen Angelie, Alysia Kanaya, Nadifah Azizah, dan Amadeus Isaac dari Grade 6B.

Terinspirasi dari tingkat polusi udara di planet bumi yang semakin meningkat, proyek 3-in-1 Tree ini menggabungkan pohon artifisial, lampu jalanan, juga tempat duduk untuk berteduh dan beristirahat.

“Meski menanam pohon dapat membantu mengurangi polusi, tetapi cara ini kurang efektif karena pohon membutuhkan waktu yang sangat lama untuk tumbuh besar. Apalagi, akhir-akhir ini sudah tidak ada lagi ruang untuk menumbuhkan pohon," jelas Aireen. 

"Meski bisa tumbuh, pohon yang berukuran besar justru dapat merusak jalanan bahkan trotoar sekitar, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari,” tambahnya.

Proyek inovatif dan eco-friendly ini menggunakan dua energi terbarukan yaitu mikroalga dan sinar matahari. Mikroalga dapat berfotosintesis seperti pohon pada umumnya dan diklaim mampu memproduksi setengah oksigen di dunia. Sehingga membuatnya 10-50 kali lebih efisien dari pada pohon.

Selain dapat menghemat lebih banyak ruang, penggunaan mikroalga juga dapat menghemat waktu karena tidak perlu berlama menunggu pohon tumbuh besar. 

Meski begitu, karena mikroalga digunakan di dalam air dalam proyek ini, tidak menutup kemungkinan bahwa bisa terjadi algae bloom (ledakan populasi alga) saat dioperasikan, sehingga penggunaan aerator dibutuhkan untuk mencegah hal tersebut.

Selain mikroalga, sinar matahari juga digunakan dalam proyek ini dengan perantara panel surya yang juga berfungsi sebagai tempat berteduh. 

Saat siang hari, panel surya akan bekerja mengumpulkan energi dari sinar matahari untuk mengisi ulang tenaga baterai. Kemudian saat malam hari, baterai akan bekerja untuk menyalakan lampu LED.

Halaman
12
Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved