Rabu, 20 Mei 2026

Dampak PMK Kembali Merebak di Mojokerto, Peternak Sapi Kecil Merana Setelah Tabungannya Musnah

Ia mengaku ada tujuh ekor ternak sapi yang dirawatnya terdampak dan satu di antaranya mati terpapar PMK.

Tayang:
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Deddy Humana
surya/Mohammad Romadoni (Romadoni)
Peternakan sapi skala besar terdampak wabah PMK di Kabupaten Mojokerto. 


SURYA.CO.ID, MOJOKERTO - Peternak sapi mulai mengeluhkan datangnya kembali wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di di 16 kecamatan, Kabupaten Mojokerto,  yang menyebabkan hewan ternaknya mati.

Wabah PMK kembali merebak di Mojokerto pada 2 Desember 2024 dan dampaknya menyebabkan ratusan ekor sapi terjangkit dan 14 sapi mati.

Peternak sapi di Desa Sambiroto, Sooko, Imam Masud (53) mengatakan, wabah PMK sangat merugikan masyarakat terutama bagi peternak skala kecil yang hanya memiliki 1-2 ekor sapi.

Mayoritas warga memilih berternak sapi untuk tabungan atau investasi. Pupus sudah harapan mereka jika ternak sapi satu-satunya mati akibat PMK.

"Sangat ngenes (merana) sekali terutama bagi peternak skala kecil. Jadi orang yang punya 1-2 ekor sapi terkena wabah, maka harapan dan tabungannya habis," ungkap Imam, Rabu (1/1/2025).

Ia mengaku ada tujuh ekor ternak sapi yang dirawatnya terdampak dan satu di antaranya mati terpapar PMK. "Ada yang terdampak, tujuh ekor sapi dan yang satunya mati. Alhamdulillah bisa segera ditangani untuk disembuhkan," ucap Imam.

Menurutnya, wabah PMK tahun ini tidak terlalu parah dibandingkan awal tahun 2022 lalu dengan kasus yang mencapai ribuan tertular.

Para peternak sadar akan wabah itu dan segera memberikan vaksinasi PMK untuk hewan ternaknya sebagai antisipasi dan pencegahan penularan.

"PMK masuk ke Mojokerto 2022, dan tahun ini biasanya saja atau landai, tidak parah seperti dulu karena sekarang sudah divaksin. Jadi sapi yang sudah divaksin PMK, Insya Allah aman," jelasnya.

Ia merawat sekitar 200 ekor sapi di sebuah kandang skala besar yang terletak di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Mojokerto. Berbagai jenis sapi di antaranya adalah sapi perah jenis FH (Friesian Holstein, Limousin, Brahman, Simmental.

"Sapi yang terjangkit PMK di sini jenis Simmental dan Limousin yang sering, kemungkinan awalnya belum divaksin. Kita tidak berani mendatangkan sapi baru dari luar daerah, karena di sini masih ada wabah PMK," bebernya.

Imam berharap pemda segera melakukan penanganan tepat untuk menghilangkan wabah, dengan kembali mengintensifkan vaksinasi PMK.

"Pemerintah segera tanggap mengatasi permasalah ini, terus bagaimana penanganannya. Terutama vaksinasi PMK, karena vaksin sangat dibutuhkan. Enam bulan sekali wajib vaksin, kalau hewan ternak sapi tidak vaksin ya tetap bisa terkena PMK," pungkasnya.

Sebelumnya, Tim paramedik Dinas Pertanian (Distan) Mojokerto mendatangi peternakan sapi yang terpapar wabah PMK.

Tim melakukan pengecekan hewan ternak sapi sekaligus pelayanan kesehatan pada hewan ternak di sebuah peternakan sapi berskala besar di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Selasa (31/12/2024).

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved