Jumat, 24 April 2026

Ketahanan Pangan Jatim

Abon Sapi Bu Sarti Khas Surabaya Bertahan 29 Tahun, Habiskan 720 Kilogram Daging Tiap Hari

Sesuai namanya, usaha ini awalnya didirikan oleh Sarti, seorang perempuan di kawasan ini yang melihat besarnya animo masyarakat terhadap abon.

surya.co.id/bob
Tak hanya produsen daging segar, Surabaya juga menjadi ekosistem tumbuhnya berbagai produk olahan daging siap santap. 

Proses produksi diawali dengan penyiapan bahan melalui perebusan daging dalam air mendidih. Untuk bisa melunakkan daging, lama perebusan membutuhkan waktu hingga 8 jam.

Selesai bahan siap digunakan, daging didinginkan menjelang diolah. Proses pengolahan diawali dengan merebus daging kembali selama 3 jam.

"Fungsinya, agar daging mudah dalam proses penumbukan. Sebab, menumbuk daging nggak kuat kalau nggak dalam kondisi panas," katanya.

Selesai direbus, daging kemudian ditiriskan, ditumbuk hingga daging berbentuk lembut. Setelah ditumbuk, daging ditumis bersama santan dan bumbu (digongso) hingga kering, baru kemudian digoreng menggunakan minyak goreng, dan selanjutnya ditakar dan dikemas.

"Ini merupakan resep dari ibu yang menjadi ciri khas abon di sini. Lama pengerjaan untuk pengolahan saja membutuhkan 4 jam di luar merebus," katanya.

Abon lantas dikemas dengan dua ukuran, 100 gram dan 250 gram tiap bungkusnya. Kemasan kecil dihargai Rp25 ribu dan untuk kemasan besar senilai Rp62.500.

"Kami juga menyiapkan harga yang bersaing dengan mengambil keuntungan yang tidak besar. Sebab, pelanggan kami juga merupakan agen, toko-toko, dan pusat oleh-oleh," katanya.

Tak hanya Surabaya, Abon Sapi Bu Sarti pun kini bisa dijumpai di berbagai wilayah di seluruh Indonesia.

Bahkan, beberapa di antaranya dapat dijumpai di marketplace. "Dari total penjualan, sebanyak 80 persen di antaranya merupakan toko offline. Sisanya, baru dijual secara online," katanya.

Produsen ini pun tidak hanya menjadi penghidupan bagi keluarganya maupun warga sekitar, namun juga menjadi tempat penelitian sejumlah mahasiswa.

"Biasanya, mahasiswa di sini meneliti kandungan gizi hingga meneliti proses produksinya," katanya.

Ke depan, pihaknya masih berharap untuk meningkatkan kapasitas produksi. Kepada pemerintah, ia bermimpi adanya bantuan penyediaan alat penumbuk daging.

"Kami sudah pernah menyampaikan kepada pemerintah. Apabila ada alat tersebut, harapannya produksi bisa semakin efisien," katanya. 

Tak hanya produsen daging segar, Surabaya juga menjadi ekosistem tumbuhnya berbagai produk olahan daging siap santap.

Di antaranya, "Abon Sapi Bu Sarti" di kawasan Jalan Patmosusastro, Darmo, Kecamatan Wonokromo, Surabaya yang telah berdiri sejak 1995 silam.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved