Berita Viral

Beda Nasib Guru Supriyani dan Aipda WH Si Pelapor, Ada yang Dielu-elukan, Sang Polisi Ketir-ketir

Begini lah perbedaan nasib guru Supriyani dan Aipda WH (inisial) setelah kasusnya viral dan menjadi sorotan luas. 

Editor: Musahadah
kolase tribun sultra
Nasib Aipda WH, pelapor guru Supriyani kini justru tersudut. Dugaan ambil barang bukti dan uang damai Rp 50 juta menyeruak. 

Dalam upaya mediasi berikutnya, pihak tersangka dan suaminya datang langsung ke rumah korban. Tetapi, mediasi gagal.

"Kami tidak pernah meminta uang. Malahan, suami tersangka saat datang ke rumah mengeluarkan amplop putih."

"Tidak tahu isinya. Dilakukan suaminya saat ke rumah bersama kepala desa," katanya soal tudingan uang damai Rp50 juta.

Keterangan berbeda diberikan oleh Kastiran (38), suami Supriyani.

Ia mengaku dimintai uang damai sebanyak Rp 50 juta oleh pihak pelapor.

Selain itu, Aipda WH meminta Supriyani keluar dari sekolahnya tempat mengajar.

Kastiran tidak bisa menyanggupi permintaan tersebut.

"Diminta Rp 50 juta dan tidak mengajar kembali agar bisa damai."

"Kami mau dapat uang di mana? Saya hanya buruh bangunan,” ungkap dia, dikutip dari TribunnewsSultra.com.

Kastiran dalam kesempatannya juga membantah sang istri melakukan penganiayaan.

Supriyani kepada suami mengaku saat kejadian berada di kelas lain.

Ia mengajar di kelas 1 B, sedangkan anak Aipda WH berada di kelas 1 A.

Kasus yang menjerat Supriyani sudah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Konawe Selatan

Ia sedang menunggu proses sidang yang akan digelar pada Kamis (24/10/2024) besok.

Kejari Konawe Selatan sebelumnya telah menahan Supriyani sejak Jumat (18/10/2024) kemarin.

Namun karena dengan berbagai pertimbangan, penahanan terhadap Supriyani ditangguhkan.

Ia keluar dari Rutan Perempuan Kelas III Kendari pada Selasa (22/10/2024) sore.

Supriyani mengaku dipaksa oleh penyidik untuk mengakui perbuatannya.

"Saya ditelepon beberapa kali sama penyidik untuk diminta mengaku saja kalau bersalah," ungkapnya, dikutip dari TribunnewsSultra.com.

Supriyani secara tegas tidak pernah melakukan pemukulan terhadap anak dari Aipda Wibowo Hasyim.

Ia merupakan salah satu guru honorer Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Baito, Konawe Selatan.

"Saya tidak pernah memukul anak itu apalagi dituduh pakai sapu."

"Saya sudah 16 tahun honor, baru kali ini dituduh seperti itu," katanya sambil menangis.

Sebagian artikel ini telah tayang di TribunnewsSultra.com dengan judul Deretan Poster PGRI saat Aksi Demonstrasi Sidang Perdana Supriyani PN Andoolo Konsel Sultra

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved