Berita Ponorogo

Panen Raya di Ponorogo, Menteri PMK : Nasi Jagung Jadi Alternatif Karbohidrat Untuk Makan Gratis

makan siang gratis untuk siswa sekolah itu adalah ide dalam kampanye Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka saat Pilpres 2024 lalu.

Penulis: Pramita Kusumaningrum | Editor: Deddy Humana
surya/Pramita Kusumaningrum (pramita)
Menteri Perekonomian bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy berbincang dengan para petani usai panen Jagung Varietas Hibrida NK 212 di Ponorogo, Sabtu (3/8/2024) lalu. 

SURYA.CO.ID, PONOROGO - Komoditas jagung mulai dilirik sebagai alternatif pangan untuk rakyat Indonesia selain padi, dalam program makan gratis. Hal itu disampaikan Menteri Perekonomian bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Muhadjir Effendy saat mengikuti panen jagung varietas hibrida NK 212 di Ponorogo, Sabtu (3/8/2024) lalu.

Muhadjir mengatakan, nasi jagung bisa menjadi pilihan menu dalam program makan siang gratis. Di mana program makan siang gratis untuk siswa sekolah itu adalah ide dalam kampanye Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka saat Pilpres 2024 lalu.

“Sebaiknya makan gratis ini harus memberikan pendidikan generasi tentang diversi pangan,” ungkap Muhadjir di Desa Prayungan, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo.

Ia menjelaskan, sumber karbohodidrat tidak hanya ditemukan di beras. Namun banyak sumber makanan yang memiliki karbohidrat dan tidak kalah dengan beras.

“Jika kita tergantung beras, betul-betul tidak terkejar. Contohnya di Desa Prayungan. Bahwa lahan yang bisa panen tiga kali dalam satu tahun hanya 30 persen,” tambahnya.

Muhadjir menambahkan, ia akan mengajukan konsep makan siang gratis dengan pilihan nasi jagung. Ia juga telah mengajukan konsep ke presiden terpilih untuk mengupayakan betul sumber daya lokal.

“Sayur dari petani lokal digilir. Juga kebutuhan protein didapatkan dari peternak di sekitar sekolah yang ada,” terang Mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Ketika ditanya idealnya berapa nilai makan siang gratis yang sehat, Muhadjir menjawab jika tidak diproyek, maka harga bisa tidak terlalu tinggi. Contohnya telur sekitar Rp 25.000 per KG isi 17 butir.

Jika dibagi, berarti ketemunya tidak sampai Rp 2.000 per anak. Kemudian beras Rp 15.000 per KG. Dan 1 KG beras bisa intuk 12 anak. “Nanti ditambahi sayur, viramin dan lain-lain. Pasti ketemunya tidak akan tinggi,” pungkas Muhadjir. ****

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved