Hikmah Ramadhan 2024

Berburu Malam Seribu Bulan

ketika Lailatul Qodr berlalu, bumi tidak terasa dingin, tidak juga panas dan matahari terlihat berwarna merah pudar

|
Editor: Deddy Humana
istimewa
M Hasan Ubaidillah/Sekretaris Kopertais Wilayah IV Surabaya 

Oleh M Hasan Ubaidillah, Sekretaris Kopertais Wilayah IV Surabaya

MATAHARI sepertinya enggan menampakkan diri, padahal petunjuk waktu sudah menunjukkan pukul 07.30 WIB. Artinya, 30 menit lagi waktunya shooting untuk program Syi’ar Ramadhan pada salah satu stasiun televisi swasta.

Syiar Ramadhan itu ditayangkan rutin pada pukul 17.00WIB - 18.00 WIB selama Ramadhan untuk menemani berbuka puasa.

Sajian tema yang berkaitan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari selama menjalankan ibadah puasa Ramadhan membuat program ini banyak diminati khususnya untuk kalangan ibu-ibu, karena di segmen akhir program ini menyajikan tutorial untuk membuat menu berbuka puasa dan menu sahur yang mudah tetapi sangat lezat serta memenuhi standar gizi yang cukup.

Terpenuhinya asupan vitamin dengan konsumsi makanan yang bergizi membuat tubuh kita terjaga kesehatannya, sedangkan asupan vitamin untuk rohani disajikan dalam kajian keagamaan yang menjadi panduan untuk kesuksesan ibadah puasa yang kita lakukan sehingga kita menjadi sehat jasmani dan rohani.

Kesehatan jasmani dan Kesehatan Rohani merupakan bekal utama bagi kita untuk “berburu malam seribu bulan”. Dengan kondisi fisik yang prima kita bisa melakukan ibadah dengan baik, dengan kondisi rohani yang bersih kita bisa beribadah dengan khusyu’ dan mampu menangkap dan merasakan getaran-getaran datangnya Lailatul Qodar yaitu satu malam yang nilainya lebih utama dari 1000 bulan.

Tentunya kebanyakan ummat Islam berkeinginan untuk merasakan dan menikmati sensasi spiritual malam 1000 bulan tersebut, sehingga untuk mendapatkannya sebagian dari mereka berkhalwat atau menyendiri di tempat-tempat yang sunyi dan hening seperti disudut-sudut masjid.

Sebagian yang lain memadati ditempat-tempat khusus yang mereka yakini dapat memberikan nilai spiritual sendiri bagi mereka seperti di makbaroh orang-orang sholeh.

Maka tidaklah mengherankan apabila kita menyaksikan para peziarah di makbaroh para wali-wali Allah begitu ramai, mereka melantunan dzikir dan berdo’a agar segala urusan serta hajat hidupnya dikabulkan oleh Allah SWT dengan mengharapkan keberkahan dari malam Lailatul Qodr.

Lantas kapan waktu yang pas untuk berburu malam 1000 bulan tersebut ?

Di sinilah kita harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Dalam hal ini Rasulullah memberikan beberapa petunjuknya di antaranya sebagaimana hadits Riwayat Ibn Umar sebagai berikut :

"Sesungguhnya salah seorang dari sahabat bermimpi bertemu Lailatul Qodr di dalam tidurnya pada 7 hari terakhir dari bulan Ramadhan, maka Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya saya melihat mimpimu itu dan sungguh Lailatul Qodr itu turun di 7 hari terakhir di bulan Ramadhan, maka siapa saja yang menyengaja mencarinya, carilah di 7 hari terakhir di bulan Ramadahan". (Musnad Ahmad)

Didalam Riwayat yang dinukil dari Ibn Abbas, Rasulullah SAW bersabda : "Dapatkanlah Lailatul Qodr pada 10 malam terakhir bulan Ramadhan." (HR. Buchori)

Lebih lanjut Ibn Abbas meriwayatkan bahwa suatu hari Umar Ibn Khattab memanggil para sahabat Rasulullah SAW kemudian menanyakan perihal malam Lailatul Qodr. Maka mereka bersepakat bahwa malam tersebut jatuh pada malam 10 terakhir bulan Ramadhan.

Kemudian Ibn Abbas berkata : "Sesungguhnya aku tahu malam keberapakah itu, kemudian umar bertanya “malam keberapa? Ibn Abbas pun menjawab bahwa itu adalah malam tujuh pertama bulan Ramadhan atau malam ketujuh pada 10 terakhir bulan Ramadhan."

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved