SOSOK 4 Polwan Tangguh yang Pertama Jadi Anggota Gegana Brimob, Latihan Berat dan Teken Kontrak Mati

Inilah sosok 4 Polwan tangguh yang pertama kali jadi anggota Gegana Brimob. Latihan Berat dan Teken Kontrak Mati.

Kompas.com
Sosok 4 Polwan Tangguh yang Pertama Jadi Anggota Gegana Brimob. Simak kisah mereka. 

"Sejak Korps Polwan berdiri, memang baru pertama kalinya ada empat Polwan masuk Brimob, apalagi jadi anggota Gegana. Dan ini menjadi kebanggaan tersendiri," kata Kusbandiah.

Dia mengatakan, keempat Polwan itu bisa masuk sebagai anggota Gegana Brimob karena mempunyai kemampuan menembak yang baik, saat menempuh pendidikan di Sekolah Bintara Polwan Ciputat.

Keempatnya masuk dalam kategori penembak "kelas satu".

Dengan pertimbangan dan alasan tertentu lainnya, pada Juni 1990 pimpinan Polri menempatkan Ina, Atanasia, Sayekti, dan Reny ke Detasemen Gegana Brimob Polri.

Menjelang serah terima jabatan Direktur Samapta Polri Agustus 1990 silam, Brigjen (Pol) dr Hadiman memerintahkan agar keempat Polwan tersebut mengikuti pendidikan dasar bintara Brimob di Jawa Timur.

Selesai pendidikan pertengahan November 1990, empat Polwan ini bertugas di Pusat Brimob Polri, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

"Banyak pengalaman baru dan aneh-aneh yang diterima selama pendidikan dasar Brimob, yang belum pernah kami alami di pendidikan Sekolah Bintara Polwan," ujar Ina yang mengaku sejak kecil punya cita-cita jadi Polwan.

Pendidikan di lapangan yang diikuti mereka tentu saja relatif berat.

Misalnya, halang rintang lanjutan (merayap tambang, melompati jurang, menggantung seperti kera), lintas alam (dengan pakaian lengkap, mendaki gunung, melewati sungai, jalan setapak dan masuk ke gua), survival (selama dua hari satu malam mereka harus bertahan di hutan, makan apa saja yang ada di hutan Gunung Pundak di Jatim), escape (menuruni puncak gunung dan berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer), turun dengan tambang dari helikopter, atau pun renang militer sejauh tiga mil di pantai Bondowoso, Jatim.

"Kami melaksanakan itu semua dengan senang. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati senang, semua yang berat jadi enteng.

Meskipun makan di hutan dan jarang mandi, selama pendidikan kami tidak pernah sakit.

Soal mati itu kan di tangan Tuhan. Yang penting, kita tetap berani dan percaya diri melaksanakan tugas seberat apa pun," papar Ina.

Sebelum menjadi polisi, Ina sempat kuliah di Fakultas Administrasi Negara Universitas Dr Sutomo Surabaya itu.

"Saya hanya kuliah satu tahun sambil menunggu pengumuman Sekolah Bintara Polwan Ciputat.

Karena sudah cita-cita jadi Polwan, saya tinggalkan bangku kuliah," ucap Ina. Sedangkan Reny dan Sayekti merupakan anak dari pensiunan anggota Brimob.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved