Brigadir J Ditembak di Rumah Jenderal
UNGKAPAN Kekesalan Arif Rahman ke Ferdy Sambo yang Menangis di Depannya: Kasar dan Lontarkan Ancaman
Inilah ungkapan kekesalan Arif Rahman Arifin ke Ferdy Sambo yang disampaikan dalam pembelaan (pleidoi) di sidang pembunuhan Brigadir J, Jumat (3/1/202
SURYA.CO.ID - Inilah ungkapan kekesalan Arif Rahman Arifin ke Ferdy Sambo yang disampaikan dalam pembelaan (pleidoi) di sidang pembunuhan Brigadir J, Jumat (3/1/2023).
Arif Rahman Arifin bahkan menyebut Ferdy Sambo telah melakukan penyalahgunaan keadaan yang telah membuatnya mengalami dilema Moral.
Dijelaskan Arif Rahman Arifin, cerita yang disampaikan Ferdy Sambo tentang adanya pelecehan seksual yang dialami istrinya, Putri Candrawathi begitu meyakinkan.
"Cerita yang disampaikan oleh pimpinan kepada saya saat itu ditambah apa yang saya lihat dari bapak FS dan ibu PC yang menangis sedih, justru timbul rasa empati yang besar kepada beliau.
"Saya seperti terkondisikan oleh rasa empati sehingga tidak ada pemikiran janggal saat itu," kata Arif Rahman.
Baca juga: SOSOK Nadia Istri Arif Rahman yang Menangis Karir Suami Hancur Karena Ferdy Sambo, Anak Sakit Langka
Terlebih, dari penampilan raut muka Ferdy Sambo dan Putri Candrawathi sangat sedih dan terpukul karena kejadian itu.
Arif Rahman juga mengakui saat itu Ferdy Sambo terkadang bersikap kasar dan melontarkan ancaman.
"Emosi yang ditampilkan oleh bapak FS yang tidak stabil dan rentan perubahan kepribadian serta kadang bersikap kasar dan ancaman yang terlontar, menciptakan keadaan yang membuat saya tegang," katanya.
Keadaan ini lah yang kerap muncul dalam setiap perenungan atau kontemplasinya sehingga membuat logik, nurani dan rasa takut yang dirasakan bercampur aduk.
"Sungguh tidak semudah membaca kalimat dalam peraturan yang menolak perintah alasan. Tidak semudah melontarkan pendapat. Kalau saja begini, kalau saja begitu. Mengapa tidak melakukan ini, mengapa tidak melakukan itu," katanya.
Arif juga mengungkap budaya di organisasi Polri yang mendukung apa yang dilakukan Ferdy Sambo.
"Budaya organisasi Polri yang mengakar pada rantai komando, hubungan berjenjang yang disebut relasi kuasa. Bukan sekedar ungkapan, tapi suatu pola hubungan yang begitu nyata memberi batasan tegas atasan dan bawahan. Pola ini yang kadang menimbulkan penyalahgunaan oleh atasan terhadap bawahan," tukasnya.
Di uraian lalin, Arif Rachman Arifin juga mengaku tertekan saat Ferdy Sambo murka lantaran rekaman CCTV yang menunjukkan Brigadir Yosua Hutabarat alias Brigadir J masih hidup ditonton oleh sejumlah perwira Polri.
Adapun rekaman CCTV yang dimaksud di sekitar rumah dinas Ferdy Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan.
Dalam rekaman CCTV itu, terlihat Brigadir J masih hidup ketika Ferdy Sambo tiba di rumah dinas Duren Tiga.
Arif pun sempat menonton rekaman CCTV tersebut bersama terdakwa Chuck Putranto, Baiquni Wibowo dan Eks Kapolres Jaksel AKBP Ridwan Soplanit.
Rekaman CCTV itu berbeda dengan keterangan Sambo yang menyatakan datang saat Brigadir J telah tewas.
"Dalam suasana yang tegang, alasan saya tidak bisa lagi mengontrol emosi dan air mata. Kondisi menjadi sulit diprediksi. Apalagi ketika ditanya (Sambo) siapa saja yang sudah menonton? dan kemudian ada perkataan kalau bocor saya berempat yang harus bertanggug jawab. Kondisi psikis saya sudah sangat down dan sangat tertekan," ujar Arif.
Arif pun meminta semua pihak untuk memahami posisinya yang tertekan dengan amarah Sambo.
Saat itu, dia pun menuruti perintah Sambo dengan memusnahkan rekaman CCTV yang menunjukkan Sambo masih hidup.
"Sulitkah untuk memahami posisi saya? mungkin lebih mudah lebih dipahami jika dianalogikan dengan ungkapan bagaikan individu yang terkena sakit menular. Keadaan yang disalahgunakan ini membuat saya tidak ada pilihan selain diam dan sebagai tindakan akomodatif dan mencari solusi saya dan Baiquni menyiapkan rencana lainnya," jelas Arif.
Namun begitu, Arif menambahkan bahwa dirinya meminta semua pihak memaknai itikad baiknya yang sempat mempertanyakan rekaman CCTV itu kepada Sambo.
"Ketika saya tidak lagi diam dan keberanian saya perlahan muncul meskipun muncul sedikit semoga dapat dimaknai sebagai itikad baik. Semoga dapat dihargai sebagai upaya yang berguna untuk mengungkap kebenaran," tukasnya.
Minta Maaf

Di bagian lain, Arif Rachman Arifin menahan tangis saat meminta maaf kepada orang tua dan mertuanya karena membuat kecewa terlibat dalam kasus perintangan penyidikan atau obstruction of justice pembunuhan Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.
"Sebelum saya baca pembelaann pribadi ini izinkan saya haturkan permintaan maaf saya kepada ayahanda, ibunda, orang tua, dan mertua tercinta saya," kata Arif.
Arif pun mengakui kekecawaan ayahnya lantaran karirnya harus hancur lantaran terlibat dalam kasus tersebut. Dia pun berharap, ayahnya bisa ikhlas menerima kondisi anaknya.
"Untuk ayahanda saya tahu bagaimana ayahanda berharap kepada saya dan takdir harus seperti ini. Saya berharap ayahanda bisa ikhlas dan Allah segera memulihkan rasa kecewa di hati ayahanda," jelas Arif.
Arif juga menyampaikan pesan kepada ibunda dan mertuanya. Menurutnya, dukungan kedua orang ini menjadi kekuatan baginya untuk menghadapi setiap persidangan.
"Wanita yang paling saya cintai di dunia ini, tempat surga saya terletak, pelindung hati saya. Ingatan saya terhadap cinta kasih ibunda berdua merupakan kekuatan bagi saya untuk bisa berdiri tegak memasuki ruang sidang dan duduk di kursi. Tidak pernah sekalipun terbesit dalam pikiran saya bahwa ini akan terjadi dalam hidup saya," jelasnya.
Lebih lanjut, Arif memahami bahwa setiap air mata yang terjatuh dari ibundanya telah menghancurkan hatinya. Dia pun berdoa agar ibundanya terus diberikan kekuatan dalam hatinya.
"Setiap tetes air mata ibunda merupakan dukungan buat saya walaupun hancurkan hati saya di sisi yang lain. Kekuatan untuk saya bertahan dan tabah serta arahkan hatinsaya. Setiap saat saya hanya bisa berdoa kepada Allah. Semoga Allah selalu menjaga ibunda berdua dan memberi kedamaian di hati," ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa ibundanya memang kerap berupaya tegar setiap menonton TV ataupun mendengar omongan orang lain tentang kasus yang menimpa dirinya. Namun, dia meyakini bahwa ibundanya tetap akan mendukungnya.
"Saya tahu ibunda berupaya tegar setiap menonton di TV setiap kali membaca berita atau mendengar omongan. Tapi saya yakin ibunda berdua tetap selalu mendukung saya. Dan saya juga berserah diri kepada Allah dan saya yakin Aah tidak pernah salah nilai hambanya," jelasnya.
Namun begitu, Arif menambahkan bahwa dirinya pun memastikan dirinya akan berusaha untuk tetap menjadi anak yang bisa membanggakan orang tuanya di masa yang akan datang.
"Percayalah saya masih berusaha menjadi anak dan mantu yg bisa dibanggakan. Saya berjanji di masa yang akan datang saya akan lebih berupaya lagi. Semoga Tuhan masih memberi kesempatan kepada saya. Dan semoga ayahanda berdua selalu memberi bimbingan dan dukungan serta arahan kepada saya," tukasnya.
Sebagian artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Sambo Murka karena Data CCTV Brigadir J Masih Hidup Ditonton, AKBP Arif Rachman: Saya Tertekan
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.