Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Kata Bupati Gresik Gus Yani: Saya Suka Anak Muda Berani Mencoba Walau Masih Gagal

Usia Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani masih muda. Dia juga banyak cerita soal anak-anak muda di kotanya. Katanya...

SURYA.co.id - Sebagai bupati termuda sepanjang sejarah di Gresik, Fandi Akhmad Yani (kelahiran 28 Juni 1985), ingin memberi ruang seluas-luasnya bagi anak muda untuk berkreasi. “Saya suka anak muda yang berani mencoba walupun masih gagal,” katanya.

Gus Yani, panggilan akrabnya juga mengungkapkan strategi mewujudkan pemerintahan yang bersih (good and clean government) serta blak-blakan siapa saja sosok di balik kesuksesannya berkarir di politik hingga kini menjadi orang nomor satu di Kabupaten Gresik.

Selengkapnya, berikut ini wawancara khusus Pemimpin Redaksi Tribun Jatim Network yang juga Wapemred Harian Surya Tri Mulyono dengan Bupati Fandi Akhmad Yani di Kantor Pemkab Gresik, Senin (3/5).

Kami tahu sejak kampanye Anda mendengungkan clean government dan kini menjadi prioritas. Konkritnya seperti apa untuk mewujudkan pemerintahan bersih?

Sudah masuk visi misi kita, pemerintahan yang benar-benar transparan, bersih dan akuntabel. Saya sampaikan kita sebagai pejabat harus punya mental melayani, jangan sampai mencari seorang Pak Camat saja sampai satu minggu. Saya bilang itu dinas luar apa dinas luar angkasa, kok tidak pulang-pulang, nunggu tanda tangan satu camat nunggu satu minggu. Mindset mereka seperti ini harus kita ubah. Dalam pemerintahan yang bersih harus ada indikator. Kalau indikator penghargaan dari BPK, misalnya, jangan hanya di atas kertas. Terpenting dari penghargaan ini adalah wujud penerapan dan implementasi kebijakan hingga di tingkat bawah.

Seperti diketahui beberapa tahun terakhir banyak kepala daerah ‘nyantri’ di KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). Agar itu tidak terjadi di Gresik, kira-kira apa komitmen Gus Yani untuk itu, selain mengubah mindset pejabat?

Ada dua hal yang kita lakukan, satu mengubah mindset. Ini yang harus kita sosialisasikan kepada seluruh pejabat pemerintaan baik eselon II hingga tingkat bawah, mengubah gaya bekerja, mengubah pola pikir.  Jangan bekerja mengulang-ulang cara kerja sebelumnya. Nomor dua terkait dengan sistem harus kita siapkan melalui digitalisasi.  Kita menggunakan teknologi untuk mendukung transparansi pemerintahan.

Tugas pemerintahan itu ada tiga. Satu, sebagai fasilitator. Kedua sebagai regulator, dan ketiga sebagai lembaga untuk penegakan hukum. Regulasi ini harus kita ciptakan by system, jangan manual. Kalau manual, ini menjadi bahaya karena masih ada negosiasi dan lain sebagainya.

Di luar dari yang kita bicarakan tadi, banyak orang beranggapan keberkahan Gus Yani sebagai menantu KH Agoes Ali Masyhuri alias Gus Ali, tokoh ulama terkenal di Sidoarjo sama dengan keberkahan Presiden Jokowi. Menantu dan anak  sama-sama menjadi kepala daerah. Anggapan itu sebenarnya menguntungkan atau ada tidak enaknya bagi Gus Yani?

(Catatan: Putra Gus Ali yang juga kakak ipar Gus Yani, Ahmad Muhdlor Ali, juga terpilih sebagai Bupati Sidoarjo dalam Pilkada serentak 2020. Putra Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming dan menantunya Bobby Nasution juga terpilih sebagai kepala daerah di Kota Medan dan Solo)

Halaman
12
Penulis: Willy Abraham
Editor: Adrianus Adhi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved