Berita Yogyakarta
Suami Antar Istri Dibooking Pria Lain, Usai Hubungan Badan Tewas di Kamar Hotel, Sebabnya Ini
DP (41) ditemukan tewas di kamar hotel, setelah melayani 'dua ronde' tamu yang mengajaknya. Usai bermain, korban mengalami kejang-kejang lalu tewas.
SURYA.CO.ID I - Suami yang mengantarkan istrinya melayani lelaki hidung belang di sebuah hotel berakhir mengenaskan.
DP (41) ditemukan tewas di kamar hotel, setelah melayani 'dua ronde' tamu yang mengajaknya. Usai bermain, korban mengalami kejang-kejang kemudian tewas.
Infornasinya, DP saat itu mendapat order dari AP untuk mengajak kencan di sebuah hotel di kawasan Depok Barat, Yogyakarta.
DP merupakan seorang wanita yang berprofesi sebagai PSK.
Saat sedang melayani tamu, suami DP menunggu di kamar lain, Minggu (13/9/2020) sekira pukul 05:00 WIB.
Suami diduga sengaja mengantarkan DP ketika melayani tamunya.
Saat istri sedang melayani pria lain, suami DP heran karena permainannya tak kunjung selesai.
Ia sempat menghubungi ponsel DP, tapi tak ada jawaban.
Hingga beberapa saat kemudian, tamu yang dilayani DP, AP keluar dari kamar.
Melihat tamunya keluar, suami langsung mengecek keadaan istrinya.
Namun saat itu, DP sudah dalam keadaan tak bernyawa.
Suami DP mengamankan AP yang saat itu diduga hendak kabur.
AP lalu ditangkap dan diserahkan suami korban ke satpam.
"Suaminya itu telepon terus dari luar. Karena ketakutan, dia (AP) keluar kamar, tapi diikuti suaminya (DP),"
"Diamankan, diserahkan security dan dibawa ke polsek," kata Kapolsek Depok Barat, Kompol Rachmandiwanto dilansir dari Kompas.com.
Beberapa saat sebelum ditemukan tewas, DP sempat melayani AP, warga Purworejo sebanyak dua kali.
Namun diduga karena tak puas, AP minta kembali dilayani oleh korban.
Akhinya DP melayani tamunya itu sebanyak dua kali.
Ketika selesai dan hendak dibayar, DP tiba-tiba kejang dan jatuh dari tempat tidur.
AP yang khawatir dengan kondisi DP langsung membopong dan meletakkannya di atas kasur.
Tamu dan Suam Jadi Tersangka
Setelah mendapat laporan itu, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.
Jenazah korban juga langsung dievakuasi ke RS Bhayangkara untuk mengetahui penyebab kematiannya.
Sementara AP dan suami korban langsung diamankan polisi di Mapolsek Depok Barat.
Atas kejadian itu, pelanggan korban berinisial AP ditetapkan polisi sebagai tersangka.
"Yang laki-lakinya (AP) kita tetapkan tersangka dengan Pasal 359 karena kelalaiannya. Tapi ini masih terus kita dalami," ujar Rachmandiwanto.
Sedangkan suami korban, lanjut dia, hingga saat ini masih dilakukan pendalaman penyelidikan terkait dugaan prostitusi karena menjual istrinya.

Pembunuhan Terapis di Surabaya
Siapa sangka pelaku pembunuhan terapis panggilan, Oktavia Widyawati alias Monik (33) di rumah kontrakan Jalan Lidah Kulon RT 03 RW 02, Lakarsantri, Surabaya, ternyata masih mahasiswa, Rabu (17/6/2020).
Tersangka yang kini dijebloskan ke tahanan Polrestabes Surabaya adalah M Yusron Virlangga (20). Ia adalah penghuni rumah kontrakan yang memboking korban untuk pijat plus-plus.
Tersangka masih tercatat sebagai mahasiswa semester gasal di salah satu Universitas di Surabaya jurusan Teknik Sipil itu. Usia pelaku 20 tahun, sementara wanita terapis yang menyervis usianya 33 tahun.
Uang yang dipakai 'jajan' dengan terapis panggilan menggunakan uang SPP yang diberi orang tuanya. Tarif jasa boking korban Rp 900.000.
Namun dalam perjanjian dalam pelayanan tidak sesuai sehingga terjadi perang mulut. Hingga akhirnya, korban meregang nyawa dan jasadnya dimasukkan kardus oleh tersangka.
Setelah Yusron menghabisi wanita asal Jalan Ciliwung, Surabaya ditangkap di rumah bibinya di wilayah Ngoro, Kabupaten Mojokerto. Penangkapan itu dilakukan setelah Polrestabes Surabaya koordinasi dengan Polres Mojokerto.
Dalam pemeriksaan terungkap, tersangka
Yusron nekat menghabisi nyawa korban lantaran panik saat korban teriak minta tolong.
Teriakan akibat cek-cok yang terjadi setelah Yusron merasa dibohongi oleh korban yang merupakan terapis pijat.
"Saya bayar pijatnya Rp 900.000. Kemudian dia (korban) menawarkan layanan plus-plus. Setelah itu saya dioral seks saja tapi minta tambahan uang Rp 300.000. Saya tidak mau," akunya.
Karena terjadi perselisihan itu, korban dibekap tersangka. Alih-alih diam, korban malah berteriak hebat dan membuat tersangka panik.
"Saya panik. Ambil pisau lipat langsung menusuk leher korban. Saya takut digerebek warga kalau dia (korban) teriak terus," aku Yusron.
Dari penyelidikan kepolisian, Yusron berkenalan dengan korban melalui media sosial Twitter @MassagePandawa.
Dalam chatting antara tersangka dengan korban terjadi kesepakatan. Mereka bertemu di rumah kontrakan yang ditinggali mahasiswa semester gasal di salah satu Universitas Surabaya jurusan Teknik Sipil itu.
Korban datang, Selasa (16/6/2020) sekitar pukul 18.00 WIB. Setelah itu, korban memberikan layanan jasa pijat selama 45 menit yang dimulai pukul 19.30 WIB.
Di sela-sela pijat, korban menawarkan layanan jasa plus-plus kepada tersangka.
"Saat itu saya hanya dioral seks saja. Belum sempat bersetubuh. Dia (korban) minta uang tambahan saya akhirnya gak mau. Tapi korban ngeyel ikut marah," tambahnya.
Korban dihabisi pelaku sekitar pukul 23.00 WIB setelah sempat terjadi cek-cok mulut. Korban ditusuk menggunakan pisau lipat sebanyak emoat kali dan mengenai leher bawah telinga.
Setelah memastikan korban tak bernyawa, tersangka Yusron memasukkan jasad Monik ke dalam kardus dan berencana membakarnya dengan kompor portable.
Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Hartoyo didampingi Kasat Reskrim, AKBP Sudamiran, Wakasat Reskrim, Kompol Ardian Satrio Utomo dan Kanit Jatanras, Iptu Agung Kurnia Putra, mengatakan tersangka sempat membakar korban.
"Rencananya akan dibakar sampai berabu. Karena takut apinya membakar rumah, tersangka kemudian mematikan kompor portable yang digunakan membakar korban. Jadi kaki kanannya yang terkena luka bakar," kata Hartoyo, Rabu (17/6/2020).
Setelah menghabisi korban, tersangka melarikan diri ke rumah bibinya di Ngoro Mojokerto. Sebelumnya, tersangka menelepon ibunya dan menceritakan peristiwa tersebut.
Hasil pemeriksaan saksi-saksi, tersangka dikenal sebagai anak yang tempramental.
Yusron diakui kerap melawan orang tuanya dan tak bisa diatur. Hal itu diakui tersangka di hadapan polisi.
Yusron juga tak sungkan mengakui jika uang yang digunakan membayar jasa korban merupakan uang SPP kuliah yang tak dibayarkan.
"Tersangka ini kami amankan tanpa perlawanan. Keluarga tersangka juga kooperatif sehingga kami dapat mengungkap kasus ini lebih cepat," tandas Hartoyo.

Sebelumnya, warga Lidah Kulon, Lakarsantri, Surabaya geger. Karena ada mayat Monika sebelumnya berinisial M dimasukkan dalam kardus kulkas. Akhirnya, WD (Ibu tersangka) melaporkan ke polisi dan meluncur ke lokasi.
Diduga, korban dihabisi pelaku pada malam hari atau tengah malam. Darah yang ada di tubuh korban cukup banyak dan belum sepenuhnya mengering.
Setelah mayat korban dikeluarkan dari kardus oleh petugas, ada empat luka sayat di bagian leher, dan tangan kiri korban juga ada luka sayat.
Pakai yang dikenakan korban cukup minim. Celana pendek jeans sepaha dan mengenakan kaus.
Luka sayat di leher korban diduga dibacok pelaku saat cek-cok berlangsung. Sementara tangan kiri korban yang terluka ditengarai menangkis serangan pelaku.
Penyebab korban dihabisi diduga cek-cok akibat tarif yang disepakati tidak sesuai. Hingga terjadi pertengkaran hebat.
Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Sudamiran, membenarkan tewasnya M karena dibunuh.
Polisi juga menduga motif pembunuhan perempuan yang bekerja sebagai tukang pijat panggilan itu karena tawaran layanan jasa plus-plus yang tidak sesuai kesepakatan.
"Korban tukang pijat panggilan ( terapis panggilan).
Ketika mau melayani plus-plus tidak cocok tarif sehingga terjadi cek-cok berujung pembunuhan," kata Sudamiran, Rabu (17/6/2020).
Hasil olah TKP, di tubuh M terdapat beberapa luka tusuk dan sayatan benda tajam.
"Empat luka di leher bawah telinga, akibat benda tajam. Kemudian luka jari tangan kiri benda tajam dan telapak kaki kanan luka bakar," tambahnya.
Hingga kini, polisi masih memburu pelaku pembunuhan terapis pijat tersebut.
Saat ini, jasad M dibawa ke RSUD Dr Soetomo Surabaya untuk di outopsi.
Menurut warga di lokasi, Reni Agustiawan, mayat wanita itu dalam kondisi bersimbah darah saat ditemukan pertama kali.
Posisi mayat berada di dalam sebuah kardus tempat wadah kulkas yang terdapat di dalam sebuah kamar di rumah tersebut.
"Di dalam kamar itu. Darahnya banyak, masih pakai pakaian, belum dievakuasi," ujarnya pada awak media di lokasi, Rabu (17/6/2020).
Reni mengungkapkan, ditemukan sebuah luka seperti bekas tusukan senjata tajam di leher korban.

"Mungkin itu penyebab, darahnya banyak keluar, di bagian leher, kena pisau," ungkapnya.
Bapak empat anak itu menambahkan, para tetangga atau warga sekitar baru tahu temuan mayat sekitar pukul 09.00 WIB.
"Barusan aja kami tahu, jam 09.00 WIB" pungkasnya.