Jumat, 1 Mei 2026

Virus Corona di Gresik

Kisah Siti Fitria, Pegiat Lingkungan di Gresik yang Manfaatkan Jeriken Bekas Jadi Tempat Cuci Tangan

Di sela-sela "libur" mengedukasi terkait lingkungan, ia mencoba menyulap barang bekas menjadi bernilai harganya.

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/willy abraham
Siti Fitria, pegiat lingkungan asal Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik saat mengecat jeriken bekas, Jumat (3/4/2020). 

Paling banyak diminta adalah jeriken yang berwarna merah dan ungu dengan motif pohon.

“Paling jauh dikirim ke Bogor. Ada petinggi Kementerian Lingkungan Hidup yang pesan juga,” ucapnya.

Dalam sehari, mampu memproduksi hingga 150 tempat cuci tangan dari jeriken bekas ini, asalkan cuaca mendukung, tidak hujan atau mendung.

Ada tiga jenis yang dijual. Pertama ukuran 20 liter, kemudian 15 liter biasanya disebut jeriken apel dan berbentuk kotak dengan daya tampung air 18 liter.

“Yang paling laku yang 20 liter. Tapi yang 15 sama 18 liter saya beri bonus sabun cuci tangan. Harganya sama semua cuman Rp 50 ribu,” tuturnya.

Siti mengaku, memulai bisnis ini iseng, pada 7 maret 2020.

Namun saat diunggah di media sosial mendapat respon positif, pemesan mulai berdatangan.

Pada siang hari banyak ibu-ibu yang datang untuk melihat hasil karyanya.

“Kami membuat kerajinan mengusir kebosanan di rumah. Sementara juga menuruti Physical Distancing, cuci tangan pakai sabun. Sesuai dengan anjuran pemerintah untuk menjadi salah satu pemutus mata rantai virus corona. Setiap hari laku bisa 60 sampai 70 setiap hari, total dapat sekitar Rp 4 juta per hari,” terang Siti.

Salah satu rekannya, Indah Sri mengaku senang meski hanya membersihkan jeriken, mampu menambah pundi-pundi rupiah di tengah pandemi corona.

“Suka aja daripada diam di rumah. Mending bekerja ringan menghasilkan,” pungkas dia.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved