Virus Corona di Gresik
Kisah Siti Fitria, Pegiat Lingkungan di Gresik yang Manfaatkan Jeriken Bekas Jadi Tempat Cuci Tangan
Di sela-sela "libur" mengedukasi terkait lingkungan, ia mencoba menyulap barang bekas menjadi bernilai harganya.
Penulis: Willy Abraham | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.CO.ID, GRESIK – Selama pandemi Covid-19, Siti Fitria, pegiat lingkungan asal Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, tak bisa lagi mengumpulkan orang banyak untuk melakukan edukasi.
Agar aktivitasnya tak terhambat, wanita yang juga ketua Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) ini pun memutar otak.
Di sela-sela "libur" mengedukasi terkait lingkungan, ia mencoba menyulap barang bekas menjadi bernilai harganya.
Dia membeli sejumlah jeriken bekas. Ada yang dibeli dari perusahaan di Gresik.
Dia membuat tempat cuci tangan bersama temannya Indah Sri.
Meski hanya dua orang, tapi mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan tempat cuci tangan di setiap harinya.
Caranya, jeriken bekas itu dicuci terlebih dahulu dengan air bersih.
Mulai dari air dingin hingga air panas dan dibersihkan dengan sabun cair.
Setelah itu, jeriken tersebut dikeringkan. Tak perlu waktu lama, tangannya dengan cekatan menari dengan kuas cat dan merubah warna jurigen itu menjadi merah.
Kemudian dijemur lagi, setelah itu dia melukis pohon di sisi kanan dan kiri tempat cuci tangannya itu.
Kertas bertuliskan 7 langkah cuci tangan ditempel di bagian tengah.
Usai proses gambar dan warna usai. Dia melubangi bagian bawah tempat kran dengan bor.
Dipasanglah kran air dispenser seharga Rp 9 ribu itu sebagai proses terakhir pembuatan tempat cuci tangan.
“Satu tempat cuci tangan paling lama 30 menit,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/4/2020).
Menurutnya, pesanan paling banyak berasal dari Pemerintah Desa (Pemdes), Sekolah, komplek perumahan, bahkan instansi pemerintahan.
