Rabu, 6 Mei 2026

Virus Corona di Gresik

Kisah Siti Fitria, Pegiat Lingkungan di Gresik yang Manfaatkan Jeriken Bekas Jadi Tempat Cuci Tangan

Di sela-sela "libur" mengedukasi terkait lingkungan, ia mencoba menyulap barang bekas menjadi bernilai harganya.

Tayang:
Penulis: Willy Abraham | Editor: Titis Jati Permata
surya.co.id/willy abraham
Siti Fitria, pegiat lingkungan asal Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik saat mengecat jeriken bekas, Jumat (3/4/2020). 

SURYA.CO.ID, GRESIK – Selama pandemi Covid-19, Siti Fitria, pegiat lingkungan asal Kelurahan Ngargosari, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, tak bisa lagi mengumpulkan orang banyak untuk melakukan edukasi.

Agar aktivitasnya tak terhambat, wanita yang juga ketua Asosiasi Bank Sampah Gresik (ASBAG) ini pun memutar otak.

Di sela-sela "libur" mengedukasi terkait lingkungan, ia mencoba menyulap barang bekas menjadi bernilai harganya.

Dia membeli sejumlah jeriken bekas. Ada yang dibeli dari perusahaan di Gresik.

Dia membuat tempat cuci tangan bersama temannya Indah Sri.

Meski hanya dua orang, tapi mampu menghasilkan puluhan bahkan ratusan tempat cuci tangan di setiap harinya.

Caranya, jeriken bekas itu dicuci terlebih dahulu dengan air bersih.

Mulai dari air dingin hingga air panas dan dibersihkan dengan sabun cair.

Setelah itu, jeriken tersebut dikeringkan. Tak perlu waktu lama, tangannya dengan cekatan menari dengan kuas cat dan merubah warna jurigen itu menjadi merah.

Kemudian dijemur lagi, setelah itu dia melukis pohon di sisi kanan dan kiri tempat cuci tangannya itu.

Kertas bertuliskan 7 langkah cuci tangan ditempel di bagian tengah.

Usai proses gambar dan warna usai. Dia melubangi bagian bawah tempat kran dengan bor.

Dipasanglah kran air dispenser seharga Rp 9 ribu itu sebagai proses terakhir pembuatan tempat cuci tangan.

“Satu tempat cuci tangan paling lama 30 menit,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Jumat (3/4/2020).

Menurutnya, pesanan paling banyak berasal dari Pemerintah Desa (Pemdes), Sekolah, komplek perumahan, bahkan instansi pemerintahan.

Paling banyak diminta adalah jeriken yang berwarna merah dan ungu dengan motif pohon.

“Paling jauh dikirim ke Bogor. Ada petinggi Kementerian Lingkungan Hidup yang pesan juga,” ucapnya.

Dalam sehari, mampu memproduksi hingga 150 tempat cuci tangan dari jeriken bekas ini, asalkan cuaca mendukung, tidak hujan atau mendung.

Ada tiga jenis yang dijual. Pertama ukuran 20 liter, kemudian 15 liter biasanya disebut jeriken apel dan berbentuk kotak dengan daya tampung air 18 liter.

“Yang paling laku yang 20 liter. Tapi yang 15 sama 18 liter saya beri bonus sabun cuci tangan. Harganya sama semua cuman Rp 50 ribu,” tuturnya.

Siti mengaku, memulai bisnis ini iseng, pada 7 maret 2020.

Namun saat diunggah di media sosial mendapat respon positif, pemesan mulai berdatangan.

Pada siang hari banyak ibu-ibu yang datang untuk melihat hasil karyanya.

“Kami membuat kerajinan mengusir kebosanan di rumah. Sementara juga menuruti Physical Distancing, cuci tangan pakai sabun. Sesuai dengan anjuran pemerintah untuk menjadi salah satu pemutus mata rantai virus corona. Setiap hari laku bisa 60 sampai 70 setiap hari, total dapat sekitar Rp 4 juta per hari,” terang Siti.

Salah satu rekannya, Indah Sri mengaku senang meski hanya membersihkan jeriken, mampu menambah pundi-pundi rupiah di tengah pandemi corona.

“Suka aja daripada diam di rumah. Mending bekerja ringan menghasilkan,” pungkas dia.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved