Virus Corona di Jember

Terdampak Corona, Pedagang Kopi Keliling di Alun-Alun Jember Meminta Bantuan Pemerintah

Sejak wabah virus corona, para pedagang kopi keliling di Alun-alun Jember kehilangan pendapatan. Mereka pun mendesak ada bantuan dari pemerintah.

Penulis: Sri Wahyunik | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/sri wahyunik
Perwakilan pedagang kopi keliling Alun-Alun Jember saat menyampaikan pengaduan ke Satpol PP Jember, Kamis (2/4/2020) 

SURYA.co.id | JEMBER - Penyebaran Virus Corona mulai berdampak para perekonomian warga Jember. Sejumlah orang mulai merasakan dampak dari sejumlah kebijakan pemerintah demi memutus mata rantai penyebaran Virus Corona.

Sektor perdagangan informal termasuk yang terdampak. Seperti yang disuarakan oleh Paguyuban Pedagang Kopi Keliling Alun-Alun Jember. Kamis (2/4/2020) mereka mendatangi Kantor Satpol PP Pemkab Jember dan Posko Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jember.

Mereka mengadukan kesulitan mereka dampak larangan terhadap mereka berjualan di seputar Alun-Alun Jember. Kartono, Ketua Paguyuban Kopling (Kopi Keliling) Alun-Alun Jember menuturkan, ada 40 orang yang tergabung di paguyuban yang dipimpinnya.

"Itu belum semua. Yang tergabung di Paguyuban Kopling Alun-Alun saja 40 orang. Itu belum yang wilayah jualannya di Masjid Jami lama dan baru (Masjid Jami Al-Baitul Amien). Total ada sekitar 60 orang pedagang kopi keliling," ujar Kartono yang dihubungi Surya, Kamis (2/4/2020).

Mereka tidak lagi berjualan di kawasan pusat ruang terbuka hijau Jember itu sejak 23 Maret lalu. Sejak ada penerapan kebijakan kawasan tersebut sebagai kawasan 'physical distancing', para pedagang kopi keliling tidak ada yang berjualan.

Di sisi lain, para pedagang kopi keliling menggantungkan hidup pada pendapatan harian mereka dari berjualan kopi keliling. Menurut Kartono, rata-rata pedagang Kopling berpenghasilan Rp 70 ribu per hari dari menjual kopi secara keliling.

"Kalau diambil rata-rata penghasilan seminggu, maka per hari itu pendapatan Rp 70 ribu per orang. Kami kebanyakan berjualan malam hari, di seputaran Alun-Alun, juga ada yang di seputaran masjid," imbuh Kartono.

Kartono menambahkan, dirinya bersama para pedagang Kopling menuruti anjuran pemerintah yakni tidak berjualan kopi lagi. Mereka sadar, kerumunan banyak orang bisa menjadi media penyebaran Virus Corona.

'Kami manut pada pemerintah. Tapi kemarin-kemarin, kami masih punya uang untuk makan. Tapi sudah sepekan berlalu, hampir dua pekan. Kami sudah tidak punya pemasukan sama sekali untuk makan. Kami manut untuk tidak berjualan. Tapi kami mengharapkan adanya bantuan biaya hidup," tegas Kartono.

Biaya hidup atau jaminan hidup (Jadup) itu yang kini mereka butuhkan. Kartono menegaskan, dia bersama pedagang kopi keliling mau-mau saja tidak berjualan kopi, namun dia meminta pemerintah ada solusi penopang perekonomian mereka.

"Apakah biaya hidup itu, atau ada bantuan lain. Itu yang saat ini kami butuhkan," tegas Kartono. Pedagang Kopling di seputaran Alun-Alun Jember, lanjut Kartono adalah pedagang yang dibina oleh Pemkab Jember melalui Dinas Sosial.

Perwakilan pedagang mendatangi kantor Satpol PP, karena mereka merasa larangan berjualan itu disampaikan oleh pihak Satpol PP Pemkab Jember.

Ketika menyampaikan keinginan mereka ke pihak Satpol PP, pihak instansi tersebut tidak bisa memberikan jawaban karena bukan wewenang mereka. Para perwakilan pedagang diarahkan ke Posko Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Pendapa Wahyawibhawagraha, Jember.

Di posko itu, para pedagang bertemu dengan Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jember Mad Satuki. Senada dengan Satpol PP, Satuki juga tidak memiliki wewenang memberikan solusi kepada para pedagang Kopling. Sebab Gugus Tugas hanya menangani percepatan penanganan Covid-19. Para pedagang kemudian disarankan mengajukan proposal bantuan ke Dinas Perdagangan dan Perindustrian Pemkab Jember.

"Kami akan mengajukan proposal bantuan ke Dinas Perdagangan. Semoga segera ada solusi buat kami, para pedagang kecil ini," pungkas Kartono.

Alun-Alun Jember dan sekitarnya merupakan satu area publik yang jadi jujuan berkumpulnya orang di Jember. Tempat tersebut menjadi lokasi bermain, nongkrong, berolahraga, juga berkuliner. Sudah menjadi pemandangan umum, hampir setiap malam, pusat area publik di Kabupaten Jember itu didatangi orang banyak.

Semenjak pandemi Virus Corona, pihak pemerintah daerah, bersama kepolisian melarang kawasan itu menjadi lokasi berkerumunnya orang. Bahkan sejak Sabtu (28/3/2020) lalu, kawasan Alun-Alun Jember ditetapkan sebagai kawasan 'physical distancing'. Tidak ada aktivitas banyak orang, termasuk transaksi ekonomi kerakyatan di kawasan tersebut.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved