Cara Atasi Gigitan Ular Weling yang Tewaskan Bocah di Bandung, Panji Petualang Ungkap Keganasannya

Berikut Cara Atasi Gigitan Ular Weling yang Tewaskan Bocah di Bandung, Panji Petualang Pernah Ungkap Keganasannya

Cara Atasi Gigitan Ular Weling yang Tewaskan Bocah di Bandung, Panji Petualang Ungkap Keganasannya
Kolase Youtube Panji Petualang dan IST/Gmalandra
ilustrasi: Cara Atasi Gigitan Ular Weling yang Tewaskan Bocah di Bandung, Panji Petualang Ungkap Keganasannya 

Hal yang sebaiknya dilakukan adalah pergi ke rumah sakit atau pelayanan kesehatan terdekat.

Nantinya akan dilakukan observasi selama 48 jam. Umumnya penanganan akan dilakukan sesuai kondisi korban.

Jika ular yang menyerang memiliki jenis neurotoksin(racun bereaksi di sel saraf) seperti kobra, maka gejala yang mungkin timbul di antaranya mata tidak bisa terbuka, sesak, gagal nafas, hingga gagal jantung.

“Jika tidak seperti itu maka dalam 48 jam bisa pulang. Bisa pakai obat analgesic, jangan asam mefenamat karena akan menimbulkan pendarahan. Pokoknya golongan yang bukan NSAID,” tuturnya.

Namun, jika terjadi pendarahan, Maha menyarankan korban atau keluarga korban menghubunginya.

Sebab, Maha sebagai penasehat WHO untuk gigitan ular adalah satu-satunya orang yang memiliki izin edar Serum Antibisa Ular (SABU) di Indonesia di luar tiga jenis ular.

Indonesia sendiri hanya memiliki tiga antibisa ular, yakni untuk ular kobra Jawa, ular welang dan ular tanah

Diberitakan sebelumnya, seekor ular weling menggigit seorang bocah berusia 11 tahun, bernama Hadi Ramdani atau Adi Ramdani yang tinggal di kawasan Ujungberung, Kota Bandung.

Akibat gigitan ular weling, bocah yang kerap akrab dipanggil Adi itu tewas atau meninggal dunia pada Rabu (22/1/2020).

Plt Camat Ujungberung Didin Dikayuana menyebutkan, sang bocah memang tinggal di kawasan perumahan padat.

Di belakang rumahnya, ada beberapa tumbak sawah kering.

Disebutkan, Adi bisa memiliki ular weling karena menangkap dari dekat rumahnya.

"Dia menangkap ular weling di dekat rumahnya," kata Didin seperti yang dimuat Kompas.com (jaringan Surya.co.id).

Menurutnya, sang bocah sempat menunjukkan ular tangkapannya kepada teman-temannya.

Tetangga Adi Ramdani sempat mengingatkan jangan bermain dengan ular weling karena ular tersebut berbisa.

Namun, Adi tak menggubrisnya dan justru menyebut bisa ular tersebut telah dibuang.

"Korban bersikukuh bahwa ular tersebut sudah dibuang bisanya," katanya.

Disebutkan juga, bocah asal Ujungberung itu berencana akan menjual ular tersebut.

Berdasarkan kronologinya, Hadi Ramdani digigit ular weling ketika memamerkan ke teman-temannya.

Kemudian, ia pun pulang ke rumah.

Namun, orangtuanya belum pulang ke rumah.

Ayahnya masih bekerja, sedangkan ibunya sedang ikut rapat di Kelurahan Pasirjati.

Namun, kondisi bocah tersebut semakin buruk akibat gigitan ular.

Mulutnya berbusa dan tangannya menggaruk-garuk lantai.

Kondisi itu dilihat langsung oleh ibunya ketika tiba di rumah.

Berdasarkan laporan wartawan Tribunjabar.id (grup Surya.co.id) di Kota Bandung, orangtua sang bocah sempat membasuh tubuh anaknya yang kena gigitan ular, menggunakan air hangat yang ditambah garam.

Kemudian, disebutkan juga daerah tubuh yang kena gigitan ular juga diikat.

Hal itu disampaikan Danton 1 Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Kota Bandung, Solehudin.

"Orang tua sempat memberikan pertolongan pertama pada Andi dengan membasuh pakai air hangat ditambah garam dan diikat di bagian yang digigit," katanya.

Kemudian, sang bocah pun langsung dilarikan ke RSUD Ujungberung untuk mendapatkan pertolongan medis.

Namun, nyawanya tak tertolong.

"Korban sempat dibawa ke RSUD Ujungberung namun nyawanya tidak tertolong," kata Solehudin.

Solehudin juga mendapatkan informasi bahwa sang bocah digigit ular welang bewarna hitam dan putih, yang ditemukan korban di masjid dekat rumah.

Keganasan ular weling menurut Panji Petualang.

Gigitan ular weling memang mematikan.

Hal ini dijelaskan Panji Petualang melalui salah satu vlog-nya.

Menurut Panji Petualang, ular weling atau bungarus candidus termasuk dalam suku atau golongan Elapidae.

Ular berbisa itu masuk ke dalam keluarga besar ular kobra.

"Ular weling jenis Bungarus spesies, Bungarus adalah keluarga ular golongan Elapidae yang masuk dalam keluarga besarnya kobra, hanya mereka berbeda spesies," ujarnya.

Di antara ular Elapidae, ular berbisa itu termasuk pasif dan cenderung jinak.

Berbeda dengan ular king kobra yang sangat agresif.

"Di antara jenis elapidae, memang jenis bungarus termasuk ular yang pasif, tidak seperti king kobra yang sangat agresif, bungarus cenderung jinak," kata Panji Petualang.

Namun, tetap saja ancaman gigitan ular berbisa itu tak bisa dielakkan.

Apalagi jika ular weling merasa terusik atau terancam.

Saat sang ular berada dalam kondisi terancam, maka akan lansgung melancarkan gigitan.

"Ketika mereka merasa terusik dan terancam, mereka tak akan segan menggigit," katanya.

Panji Petualang menyebut, ular weling memang sulit ditebak.

Ular tersebut disebut nyaris mirip dengan ular paling mematikan di dunia, yaitu ular laut.

"Ular weling, berbisa namun pasif, aktif di malam hari, hampir mirip ular paling mematikan di dunia yaitu ular laut, namun mereka sulit ditebak," katanya.

Ia pun menyebut, secara umum ular berbisa itu sudah memiliki bisa ular sejak menetas dari telurnya.

Hal inilah yang perlu diwaspadai.

Gigitan ular berbisa yang masih kecil, termasuk ular weling, jauh lebih mematikan.

"Sejak menetas dari telur, ular weling sudah berbisa bahkan gigitannya justru lebih berbahaya dari ular lebih besar," kata Panji Petualang.

Hal ini disebabkan ular yang masih kecil belum bisa mengontrol bisa dalam tubuhnya.

"Ular kecil belum bisa mengontrol dari bisa yang mereka keluarkan," katanya.

Penulis: Putra Dewangga Candra Seta
Editor: Adrianus Adhi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved