Liputan Khusus

Bimbingan Pernikahan Diadakan untuk Menekan Angka Perceraian

Kemenag telah menerapkan bimbingan perkawinan (bimwin) kepada calon pengantin, namun sifatnya tidak wajib

Bimbingan Pernikahan Diadakan untuk Menekan Angka Perceraian
freepik.com/Yanalya
ILUSTRASI - Perceraian 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terkait wacana sertifikasi pernikahan yang dicanangkan Mentri Koordinator (Menko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Muhadjir Effendy dan Kementrian Agama, Kantor Kementerian Agama (Kankemenag) Kota Surabaya masih menunggu tahap persiapan perihal regulasi itu.

“Kami belum bisa menjelaskan secara rinci soal itu. Saat ini tahapnya masih dalam persiapan,” kata Husni, Kasi Bimas Islam Kankemenag Kota Surabaya, saat dihubungi Surya, Minggu (24/11/2019).

Husni menyatakan, bila memang wacana sertifikasi pernikahan telah dinyatakan diterapkan 2020 pihaknya siap untuk melaksanakan. Namun, ia menyarankan agar Menko PMK dan Kemenag bekerjasama dengan Mentri Ketenagakerjaan (Menaker) dalam penerapan sertifikasi pernikahan. Tujuannya, agar para peserta mendapat izin libur dari perusahaan untuk mengikuti sertifikasi.

Dia menjelaskan, Kemenag sebetulnya telah menerapkan bimbingan perkawinan (bimwin) kepada calon pengantin. Binwin telah dilaksanakan sejak 2018.

“Namun, sifatnya tidak wajib. Meski calon pengantin tak mengikuti bimwin, mereka bisa mendaftar menikah ke KUA atau melangsungkan pernikahan. Tetapi Di beberapa daerah di Indonesia sudah mewajibkan binwin,” paparnya.

Dia menyebutkan, pelaksanaan binwin dilaksanakan di hari kerja. Kadangkala pihaknya juga menggelar Bimwin pada Sabtu Minggu. Sebab, kebanyakan dari peserta tak mendapat izin libur dari perusahaan.

Pelaksanaannya digelar dua hari mulai dari pagi hingga sore. Dalam satu bulan, paling banyak, pihaknya menggelar bimwin sebanyak 10 kali.

Pelaksanaan bimwin tak menentu, tergantung musim pernikahan. Jumlah peserta per satu angkatan program binwin berjumlah 50 orang. Sedari Maret hingga November, Kankemenag Kota Surabaya telah memberikan bimbingan perkawinan kepada 57 angkatan atau sekitar 2.850 orang.

“Program bimwin dilaksanakan tanpa dipungut biaya alias gratis. Usai mengikuti binwin peserta juga akan diberi sertifikat,” paparnya.

Saat mengikuti program bimwin, para peserta akan mendapatkan sejumlah ilmu, di antaranya kesehatan produksi, agama, manajemen keuangan keluarga dan bagaimana menyiapkan generasi berkualitas. Kankemenag Kota Surabaya menggandeng dokter dan puskesmas untuk menjadi pembicara soal kesehatan.

“Kami juga memberikan pengetahuan soal agama dan bagaimana menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Meski tak wajib, masyarakat sangat antusias mengikuti binwin karena mendapat pengetahuan baru,” katanya.

Dia menambahkan, pelaksanaan binwin juga bertujuan untuk menekan angka perceraian. Sebab, salah satu faktor lahirnya program bimwin yakni munculnya fenomena banyaknya kasus perceraian pada 2016, persentasenya sekitar 25 persen.

“Dengan adanya fenomena itu, pada 2017 dibuat program pembinaan calon pengantin di KUA. Lalu 2018 dibuat program bimbingan perkawinan (bimwin). Dengan adanya kelas bimbingan ini Kemenag dan Pemerintah Pusat berharap bisa menekan angka perceraian setidaknya menjadi 5 persen dari 25 persen,” pungkasnya. (nen/don)

Saya Saksikan Suamiku Selingkuh, Permohonan Cerai di Surabaya Tembus 5.429 Perkara

Tekan Angka Perceraian, Kemenag Jatim Berharap Kursus Pranikah Diwajibkan untuk Calon Pengantin

Kelas Pranikah Sebaiknya Disesuaikan dengan Materi yang Akan Diberikan, Dua Tiga Hari Cukup

Penulis: Mohammad Romadoni
Editor: Cak Sur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved