Liputan Khusus
Khofifah Ingin Kali Brantas Steril Dari Popok Bayi dan Jadi Obyek Wisata
Khofifah Indar Parawansa ingin Kali Brantas di Jatim benar-benar bebas dari sampah sehingga bisa menjadi lokasi wisata.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA – Gebrakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa untuk membersihkan daerah aliran sungai (DAS) Brantas, tidak hanya berhenti dengan pemasangan kamera CCTV di Jembatan Karangpilang.
Khofifah menegaskan, pemasangan kamera CCTV di Jembatan Karangpilang merupakan salah satu alat agar sungai di Jawa Timur bisa dijadikan wisata sungai.
Khofifah menjelaskan, jangka panjangnya ia ingin Sungai Brantas bisa menjadi objek wisata susur sungai. Di mana wisatawan bisa menikmati sungai yang bersih, dan masyarakat yang tinggal di bantaran sungai bisa mendampatkan dampak ekonomi.
"Kita punya Relawan Jogo Kali, targetnya relawan ini efektif di semua wilayah. Jika masyarakat sudah tidak membuang sampah popok ke sungai, sungai kita akan bersih, dan destinasi wisata sungai bisa kita siapkan," kata Khofifah, Sabtu (2/3).
• Mengurangi Sampah Popok, Edukasi ke Masyarakat Jadi Kunci
• Ecoton Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Menjaga Sungai Brantas
• Saimah Bersyukur, Sejak CCTV Dipasang, Kini Karangpilang Bebas Sampah
Pemprov Jatim akan menyiapkan perahu untuk wisata, dan masyarakat di sekitar sungai akan membuat titik-titik rest area yang menyiapkan sajian kuliner. Dengan begitu, Khofifah berharap, masyarakat bisa mendapatkan manfaat dari sungai.
Lebih lanjut, dikatakan Khofifah, Relawan Jogo Kali adalah garda terdepan yang akan mengedukasi, mengajak masyarakat untuk tidak membuang popok di sungai. Mereka terbentuk di kabupaten/kota yang dialiri DAS Brantas. Seperti di Jombang, Mojokerto, Kediri, Tulungagung, dan juga Malang.
"CCTV adalah alatnya. Tapi kita juga menyediakan kontainer khusus popok di jembatan-jembatan maupun daerah alirang sungai Brantas. Agar ada opsi masyarakat tak membuang sampai di sungai, tapi di kontainer yang sudah kita sediakan," ujar Khofifah.
Nantinya bukan hanya Pemprov saja yang akan memasang CCTV, melainkan juga dari Perum Jasa Tirta.
Enam titik yang bakal segera dipasang CCTV adalah Jembatang Mlirip, Jembatan Legundi, Jembatan Lama Sepanjang, Jembatan Karah (Rolak), Jembatan Joyoboyo dan Jembatan KA Wonokromo.
Mantan Menteri Sosial ini menambahkan, langkah tegas dalam pencegahan pembuangan popok ke sungai harus dilakukan karena sudah darurat. Bahkan menjadi bahasan di banyak forum skala nasional, sehingga dibutuhkan langkah strategis untuk bisa memulai untuk tidak memberikan celah masyarakat membuang popok ke sungai.
Khofifah menyebutkan, di Jawa Timur konsumsi popok bayi mencapai 3,2 juta dan lebih dari separuhnya dibuang masyarakat ke sungai. Khofifah melihat sendiri bagaimana sampah popok banyak mengambang di Sungai Brantas.
Menurut Khofifah, alasan masyarakat membuang popok ke sungai adalah didasari juga dari kultur. Sehingga butuh ada penghenti agar kultur membuang popok di sungai tidak diteruskan.
Selain itu, Khofifah juga berkomunikasi dengan Forum Rektor Jawa Timur guna melengkapi langkah komprehensif menjaga daerah aliran sungai dari sampah popok. Ia meminta agar perguruan tinggi di Jawa Timur yang memiliki program KKN, juga memasukkan edukasi masyarakat agar tak membuang popok di sungai.
Kini, dengan adanya tujuh unit CCTV di Jembatan Karangpilang dan konek dengan Command Room Diskominfo Jatim, sudah siap melakukan perekaman pada pelaku pembuang popok di sungai. Mereka akan diviralkan agar mendapat sanksi sosial dari masyarakat.
"Setelah enam bulan sosialisasi, dan memviralkan pembuang popok, harus ada sanksi. Saat ini kita tunggu enam bulan sambil jalan sosialisasinya, edukasinya. Setelah itu tetap akan ada penalti ke pembuang sampah popok ke sungai," tegasnya.
Sementara itu, pemasangan tujuh kamera CCTV di Jembatan Baru Karangpilang memantik instansi lain untuk turut mengikutinya. Perum Jasa Tirta 1 berencana memasang kamera yang sama di Jembatan Lama Karangpilang , yang juga menjadi tempat favorit orang membuang sampah ke sungai.
Rencananya, dua buah CCTV akan dipasang pekan ini. Masing-masing kamera untuk memantau arah berlawanan. Jumlah kamera ini memang tak sebanyak yang dipasang di jembatan baru. Namun, keberadaannya diharapkan juga akan membantu untuk mengurungkan niat warga melempar sampah dari atas jembatan ke sungai.
“Kalau bisa dikoneksikan, nanti jadi satu sistem dengan yang di Pemprov Jatim. Jadi penanggulangannya bisa selaras dengan program gubernur,” kata Didik Ardianto, Kepala Sub Divisi Jasa Asa WS Brantas II/2 Perum Jasa Tirta 1.
Didik menjelaskan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan perusahaan penyedia jasa pemasangan kamera pengawas untuk rencana itu. Sebenarnya, Perum Jasa Tirta I juga sudah memasang beberapa kamera pengawas di jembatan lain, yaitu di Jembatan Rolak Gunungsari. Lokasi jembatan ini dekat dengan kantor perum Perum Jasa Tirta I.
Setidaknya, layar komputer di lantai dua kantor itu bisa memantau empat kamera pengawas yang terpasang. Tapi memang, tujuan memasang CCTV itu berbeda dengan rencana pemprov yang ingin memviralkan video pembuang sampah untuk memberi efek jera.
Cara lain yang juga efektif untuk mencegah orang membuang sampah ke sungai adalah dengan memasang ram-raman besi di samping kanan-kiri jembatan. Jembatan Rolak Gunung sari merupakan salah satu yang menggunakan ram-raman.
Beberapa jembatan di Kota Malang yang dilalui Sungai Brantas, kata Didik, juga memiliki fasilitas yang sama.
“Jadi sebenarnya kalau kaitannya (Sungai Bratas) dengan limbah, sangat kompleks. Sungai Brantas 320 kilometer. Di Kali Surabaya saja, dari Pintu Air Mlirip di Mojokerto sampai Pintu Air Jagir panjangnya 42 kilometer,” jelas Didik. (fla/iit)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/gubernur-khofifah-temukan-popok.jpg)