Liputan Khusus

Mengurangi Sampah Popok, Edukasi ke Masyarakat Jadi Kunci

Kebiasaan membuang sampah popok ke sungai bukan hal mudah untuk dihilangkan. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci utama.

Mengurangi Sampah Popok, Edukasi ke Masyarakat Jadi Kunci
surya/pipit
Ibu-ibu aktivis antibuang popok ke sungai beraksi di depan Gedung Grahadi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Membuang sampah termasuk di dalamnya sampah popok,  belakangan ini menjadi bahasan menarik baik dari kalangan pecinta lingkungan maupun pemerintahan. 

Masalah ini sebenarnya sudah klasik dan lama, namun karena semakin terlihat di permukaan, maka ada baiknya agar masalah sampah di sungai menjadi perhatian bersama.

Padahal urusan membuang sampah ini tidak jauh dari bagaimana mengedukasi masyarakat agar bisa membuang sampah sebagaimana mestinya.  Membuang sampah di tempat yang disediakan,  di tempat pembuangan akhir (TPA) atau pembuangan sementara.

Dengan pendekatan budaya, misalnya, edukasi masyarakat ini bisa dilakukan dengan membuang sampah di TPA.  Tapi untuk sampah popok,  hingga sekarang belum ada incinerator yang secara khusus memproses sampah popok.

Di sebagian masyarakat,  bahkan masih ada mitos-mitos yang tidak memperbolehkan membakar sampah popok karena khawatir terjadi apa-apa pada sang bayi.

Pemerintah sebenarnya sudah memberikan inisiatif untuk memberikan pencerahan secara pendekatan budaya ke masyarakat.  Seperti ada binaan dari komunitas pecinta lingkungan yang menggandeng tokoh agama untuk memberikan pandangan dalam membuang sampah yang benar.

Misalnya ada yang mengutarakan jika sampah popok ini bisa diolah untuk dijadikan kompos. Bisa dijadikan media tanaman hias.

Saimah Bersyukur, Sejak CCTV Dipasang, Kini Karangpilang Bebas Sampah

Ecoton Apresiasi Langkah Pemprov Jatim Menjaga Sungai Brantas

Di beberapa tempat,  pengelolaan sampah domestik dan sampah popok ini sudah dilakukan dengan dibuat kompos. Namun, jumlah sampah yang datang tidak sebanding dengan sampah yang diolah, dan jelas sampah masih akan numpuk.

Sampah domestik dicampur dengan sampah popok lalu dikomposkan. Di tempat kami (Teknik Lingkungan ITS) sudah dilakukan, meski belum dicek kandungan logam beratnya.

Membuat tempat pembuangan sampah baik sementara maupun tempat pembuangan akhir itu ada syaratnya ada kriterianya tidak bisa asal buat.  Misalnya, lahan yang disediakan harus jauh dari permukiman,  tempat penampungan sementara juga tidak boleh ada yang bocor yang mengakibatkan air lindi masuk ke dalam tanah.

Upaya pemerintah untuk mengedukasi masyarakat dengan memasang kamera CCTV juga cukup baik untuk menjaga lingkungan dari sampah domestik dan sampah popok yang dibuang sembarangan.  Namun, tempat pembuangan sementara harus tetap disediakan agar masyarakat dengan kesadaran setelah diawasi kamera CCTV bisa membuang di tempat yang benar.  (iit/fla)

Ditulis ulang berdasarkan wawancara dengan Dr  Ir Ellina S Pandebesie MT, Head of Post Graduate Programmer  Teknik Lingkungan ITS

Tags
popok
Penulis: Aflahul Abidin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved