Alasan Wanita Bercadar : Saya Pernah Diteriaki Maling dan Dilempar Botol, Tapi Dapat Pekerjaan

Banyak suka duka yang mereka hadapi namun para wanita bercadar itu mengaku tenang setelah mengenakannya.

Alasan Wanita Bercadar : Saya Pernah Diteriaki Maling dan Dilempar Botol, Tapi Dapat Pekerjaan
SURYA.CO.ID
Ilustrasi wanita bercadar 

"Niat sudah ada ya untuk bercadar, tapi ketika bertemu dengan orang tua, ayah bilang tak usah memakai cadar," kata Ani.

Ani mengatakan mungkin sang ayah tak ingin dirinya dianggap 'eksklusif' akibat cadar yang ia kenakan.

Untuk sementara ini, ia memilih 'jalan tengah' dengan memakai masker untuk menutup bagian di bawah mata hingga ke dagu.

Sama seperti Tyas, Ani juga mengatakan niat memakai cadar lebih didasari oleh faktor pengalaman spiritual, selain juga karena ajaran agama.

"Itu berawal ketika saya umrah dan melihat banyak perempuan yang mengenakan cadar. Saya melihat kok mereka sepertinya tenang, jauh lebih nyaman," kata Ani.

Dari pengalaman pribadinya, bisa dikatakan menutup seluruh wajah dan hanya menyisakan bagian mata, membuatnya jauh lebih nyaman dan lebih dekat ke Tuhan.

"Enak banget ke mana-mana dengan menutup wajah," imbuhnya.

Ia tidak setuju jika cadar dikaitkan dengan radikalisme atau ekstremisme.

Ia berpandangan kaitan cadar dengan radikalisme mungkin efek dari pemberitaan media yang memperlihatkan hampir semua istri tersangka teroris mengenakan cadar.

"Itu mungkin yang membuat orang-orang berpandangan negatif terhadap perempuan yang memakai cadar," katanya.

Pengaruh demokratisasi dan keterbukaan

Pengamat dari Universitas Indonesia, Hurriyah, mengatakan makin banyaknya kaum perempuan di Indonesia yang bercadar tak dilepaskan dari proses demokratisasi yang berkembang.

"Ketika sistem politik lebih terbuka, munculnya kelompok-kelompok yang mengekspresikan keagamaannya secara lebih beragam itu menjadi hal yang wajar," kata Hurriyah.

Faktor kedua, kata Hurriyah, adalah aspek penerimaan sosial dari masyarakat.

Perkembangan Islam di Indonesia saat ini sangat dinamis, sementara di sisi lain informasi baik dari dalam maupun luar negeri terbuka sangat luas.

"Nah ini juga memberikan pengaruh. Ini membuat orang menjadi makin terbiasa dengan berbagai macam ekspresi keagamaan, termasuk pemakaian cadar," urai Hurriyah.

Ia memberi contoh grup Niqab Squad yang ada di Facebook, yang mewadahi kegiatan Muslimah bercadar. Pada tahap awal, anggotanya sekitar 150 orang, kini dilaporkan mencapai lebih dari 3.000.

"Jadi, orang makin nyaman mengekspresikan keagamaan mereka," katanya.

Dan ini bukan hanya soal cadar. Ia melihat orang-orang sekarang makin nyaman mengekspresikan untuk hal-hal lain.

Hurriyah tidak setuju dengan pandangan bahwa makin banyaknya kaum perempuan yang bercadar menunjukkan Indonesia 'makin konservatif'.

"Gejala ke-Islaman di Indonesia sangat beragam. Tren sekarang ini orang lebih terbuka memperlihatkan religiusitas mereka."

"Ada semacam kesalihan yang tidak hanya di tingkat individu, tapi juga kesalihan sosial. Dan ini ramai ditunjukkan. Ini oke-oke saja, sepanjang tidak ada aturan hukum yang dilanggar," katanya. (BBC Indonesia)

Artikel ini tayang pada BBC Indonesia dengan judul : Kisah perempuan bercadar: Diteriaki maling, dilempar botol, hingga ditawari pekerjaan

Editor: Tri Mulyono
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved