Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?

kendati tidak gampang, menjadi guru Bimbingan Konseling bukan berarti tidak susah, kembali ke guru BK apakah mau belajar atau menyerah?

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
pixabay.com
ilustrasi 

Apakah itu susah? Tidak, karena kita pernah melewati masa muda seperti mereka, mengapa kita tidak mencoba untuk mengerti mereka, dan bukan sebaliknya kita menuntut mereka mengerti kita.

Sebagai guru BK harus berperan sebagai sahabat siswa, karena guru BK berada di garda depan dalam membangun karakter siswa dan mengantarkan mereka ke jenjang karirnya sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.

Hanya bermodal senyum, guru BK bisa memberikan kesejukan di sanubari siswa yang paling dalam. Dengan empati kita akan lebih mudah menggiring mereka untuk mengentaskan permasalahan yang sedang menghimpitnya.

Selain itu guru BK harus mampu menjadi mediator yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan orangtua jika terjadi kesalahpahaman.

Apakah itu sudah cukup? Ternyata tidak. Siswa sekarang lebih canggih,  HP tercanggih bisa mereka operasikan. Mengapa itu tidak kita manfaatkan? Sah-sah saja jika mereka curhat melalui media elektonik. WA, Line, FB, ataupun yang lainnya bisa dipakai menjadi media layanan BK, baik karir, pribadi, sosial dan belajar. 

Bayangkan jika ada sekolah yang mempunyai siswa ribuan dan guru BK hanya tiga orang, mana mungkin semua bisa terlayani? Apakah mereka harus antre untuk sekadar mengeluarkan uneg-unegnya? Bagaimana  dengan siswa yang tidak kebagian waktu? Bagaimana menjaring siswa yang pemalu?  Media elektronik solusinya.

Guru BK harus mampu membuat gebrakan baru, mau dan  selalu berinovasi. Jangan mau kalah dengan siswa, bukan berarti bersaing dengan mereka.

Agar siswa tidak menganggap guru BK kuno dan gaptek. Coba kita belajar, yang paling mudah adalah kita bisa belajar teknologi dari mereka. Gratis lagi. Lumayankan?  Asal kita tidak malu.

Hal lain yang harus dilakukan guru BK yakni menumbuhkan siswa mau datang sendiri ke ruang BK untuk berkonsultasi. Syaratnya ternyata tidak serumit benang ruwet. Guru  dituntut untuk mempunyai wawasan luas. Karena salah satu pendukung keberhasilan konseling adalah guru BK mempunyai berbagai informasi yang terkini. Untuk mendapatkan itu guru BK harus mau belajar dan belajar.

Nah! Kita harus mampu  mengubah paradigma guru BK bukan polisi sekolah menjadi guru BK  yang dirindukan siswanya sehingga profesi guru BK tidak lagi dianggap pekerjaan yang biasa-biasa saja. Namun  sebutan guru bimbingan konseling yang profesional dan bermartabat bukan hanya slogan semata.

Semoga.

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved