Selasa, 12 Mei 2026

Opini

Menjadi Guru BK yang Dirindukan Siswa, Mengapa Tidak?

kendati tidak gampang, menjadi guru Bimbingan Konseling bukan berarti tidak susah, kembali ke guru BK apakah mau belajar atau menyerah?

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
pixabay.com
ilustrasi 

Oleh Dra Rukmini Ambarwati MPsi
Guru BK SMA Negeri 1 Gedangan

 

 

MENJADI guru Bimbingan Konseling (BK) yang dirindukan banyak siswanya sebenarnya tidaklah susah, kendati juga tidak gampang.

Fakta di lapangan stigma yang sering ditimpakan adalah guru BK yang disamakan sebagai polisi sekolah, tukang pencari masalah sehingga siswa menganggap guru BK tugasnya menangani anak-anak nakal saja.      

Semua itu tidak sepenuhnya benar tetapi juga tidak salah. Mari introspeksi diri. Benarkah semua stigma dan label terebut? Apakah sebagai guru BK, kita masih berpenampilan tidak ramah dan arogan?

Bahkan yang ekstrem lagi masih ada yang menganggap bahwa guru BK tidak ada pekerjaannya. Thenguk-thenguk saja. Makanya, tidak heran jika ada guru BK diberi tugas menjadi guru piket atau sebagai tambal butuh.

Misalnya bila ada guru yang tidak masuk, guru BK lah yang diminta untuk mengganti jam tersebut agar kelas tidak kosong. Ironisnya masih ada guru BK yang menikmati sebutan itu.

Sekarang sudah abad 21, bukan jamannya lagi seorang guru ditakuti apalagi guru BK. Yang seharusnya lebih dekat dengan siswanya. Ternyata yang diperlukan siswa jaman sekarang jauh berbeda dengan generasi kita.

Kalau ada yang mengenal permainan engkle, gobak sodor, bentengan, berarti itu generasi jadul alias lama. Disadari atau tidak berinteraksinya sangatlah sempit.

Beda dengan sekarang, era yang  melesat  bak meteor, cepat dan selalu up to date. Era digitalisasi yang menjembatani mereka berinteraksi luas. Sehingga permasalahan siswa sekarang lebih banyak dan lebih kompleks jika dibanding kita dulu.

Bagaimana kita, guru BK bisa membantu mengatasi masalah siswa, kalau kita sendiri tidak mau mengerti mereka?

Ada empat pilar layanan sebagai tugas BK yang harus diemban, yakni  memberikan layanan pribadi, sosial, belajar, dan karir. Keempat tugas itu mustahil terlaksana jika  sebagai guru BK tidak bisa mengadakan hubungan  yang baik dengan siswa.

Lebih Terbuka

Membangun hubungan yang baik, berusaha tampil lebih terbuka pada siswa, gunting jarak siswa dan guru sehingga tidak ada jarak lebar yang memisahkan agar bisa bergaul dengan siswa yang beda jauh generasinya.

Apakah itu susah? Tidak, karena kita pernah melewati masa muda seperti mereka, mengapa kita tidak mencoba untuk mengerti mereka, dan bukan sebaliknya kita menuntut mereka mengerti kita.

Sebagai guru BK harus berperan sebagai sahabat siswa, karena guru BK berada di garda depan dalam membangun karakter siswa dan mengantarkan mereka ke jenjang karirnya sesuai bakat, minat, dan kemampuannya.

Hanya bermodal senyum, guru BK bisa memberikan kesejukan di sanubari siswa yang paling dalam. Dengan empati kita akan lebih mudah menggiring mereka untuk mengentaskan permasalahan yang sedang menghimpitnya.

Selain itu guru BK harus mampu menjadi mediator yang baik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan orangtua jika terjadi kesalahpahaman.

Apakah itu sudah cukup? Ternyata tidak. Siswa sekarang lebih canggih,  HP tercanggih bisa mereka operasikan. Mengapa itu tidak kita manfaatkan? Sah-sah saja jika mereka curhat melalui media elektonik. WA, Line, FB, ataupun yang lainnya bisa dipakai menjadi media layanan BK, baik karir, pribadi, sosial dan belajar. 

Bayangkan jika ada sekolah yang mempunyai siswa ribuan dan guru BK hanya tiga orang, mana mungkin semua bisa terlayani? Apakah mereka harus antre untuk sekadar mengeluarkan uneg-unegnya? Bagaimana  dengan siswa yang tidak kebagian waktu? Bagaimana menjaring siswa yang pemalu?  Media elektronik solusinya.

Guru BK harus mampu membuat gebrakan baru, mau dan  selalu berinovasi. Jangan mau kalah dengan siswa, bukan berarti bersaing dengan mereka.

Agar siswa tidak menganggap guru BK kuno dan gaptek. Coba kita belajar, yang paling mudah adalah kita bisa belajar teknologi dari mereka. Gratis lagi. Lumayankan?  Asal kita tidak malu.

Hal lain yang harus dilakukan guru BK yakni menumbuhkan siswa mau datang sendiri ke ruang BK untuk berkonsultasi. Syaratnya ternyata tidak serumit benang ruwet. Guru  dituntut untuk mempunyai wawasan luas. Karena salah satu pendukung keberhasilan konseling adalah guru BK mempunyai berbagai informasi yang terkini. Untuk mendapatkan itu guru BK harus mau belajar dan belajar.

Nah! Kita harus mampu  mengubah paradigma guru BK bukan polisi sekolah menjadi guru BK  yang dirindukan siswanya sehingga profesi guru BK tidak lagi dianggap pekerjaan yang biasa-biasa saja. Namun  sebutan guru bimbingan konseling yang profesional dan bermartabat bukan hanya slogan semata.

Semoga.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved