Jumat, 24 April 2026
Grahadi

Sambang Australia

Pemprov Jatim dan Pemerintah Australia Siap Kerjasama Standarisasi Produk

Pemprov Jatim dan Pemerintah Australia siap menjalin kerjasama standarisasi produk untuk memastikan produk Jatim dapat diterima di sana.

ist
Wakil Gubernur Jatim, Gus Ipul (kiri), saat menerima kunjungan dari Wakil Menteri Perdagangan dan Investasi Australia, Mr. Keith, Pitt, Selasa (7/11/2017) di Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, mendorong peningkatan kerjasama antara Jawa Timur dengan Australia di bidang standarisasi mutu produk.  

Menurut Wagub yang akrab dipanggil Gus Ipul ini, selama ini standar mutu produk dari Jatim yang belum sesuai dengan standar Australia, menjadi salah satu penghambat yang menyebabkan defisit neraca perdagangan antara Jatim dengan Australia.

"Australia masuk dalam 10 besar negara yang melakukan perdagangan dengan Jatim. Tetapi investor-investor Australia lebih banyak bergerak di bidang pertambangan," kata Gus Ipul yang ditemui usai pembicaraan tertutup dengan Wakil Menteri Perdagangan dan Investasi Australia, Keith Pitt, di Hotel Sheraton Surabaya, Selasa (7/11/2017).

"Untuk perdagangan, memang belum sebesar investor lain seperti Jepang dan Korea, tetapi potensi ke depan makin besar. Apalagi hambatan-hambatan ke depan bisa diatasi. Salah satu hambatannya adalah standar yang belum sama. Inilah yang kami coba terus bicarakan agar kita bisa mengikuti standarnya dari awal," tambah Gus Ipul

Dia menambahkan, di sektor pertanian dan perkebunan, produk-produk Jawa Timur memiliki potensi yang besar untuk diekspor ke Australia. Karenanya, sektor itulah yang ingin digenjot. 

“Kami ingin produk Jatim sejak dari awal atau di on farm, proses, hingga jadi bisa sesuai dengan standar Australia. Sehingga bisa diterima oleh pasar Australia," jelasnya. 

Menurut Gus Ipul, Australia memiliki standar yang ketat terkait produk impor yang bisa masuk ke negara tersebut, sehingga produk yang bisa masuk pasar Australia sangat berkualitas. Karena itu, kerjasama standarisasi mutu produk menjadi langkah tepat agar produk Jatim bisa diterima pasar Australia.

“Kami siap mengikuti dan memenuhi standar Australia. Jika produk Jatim bisa masuk pasar Australia, ini berdampak positif pada neraca perdagangan Jatim yang masih defisit dengan Australia” katanya.

Berdasarkan data BPS, dalam kurun waktu 2013-2017, kinerja perdagangan Jatim-Australia menunjukkan defisit bagi Jatim.

Pada 2015, ekspor Jatim ke Australia mencapai 392,52 Juta dolar AS, sedangkan impornya mencapai 555,48 Juta dolar AS (defisit 162,96 Juta dolar AS).

Kemudian tahun 2016, ekspor Jatim mencapai 358,60 Juta dolar AS, impornya mencapai 518,73 Juta dolar AS (defisit 160,13 Juta dolar AS).

Sementara sampai dengan September 2017, ekspor Jatim mencapai 282,22 Juta dolar AS, impornya mencapai 720,86 atau defisit 438,64 Juta dolar AS.

Dengan adanya standarisasi mutu, lanjut Gus Ipul, diharapkan makin banyak komoditi Jatim yang diekspor ke Australia.

Adapun 10 komoditi utama non migas Jatim yang diekspor ke Australia adalah kayu, barang dari kayu, kertas karton, daging dan ikan olahan, berbagai barang buatan pabrik, mesin/peralatan listrik, besi dan baja, plastic dan barang dari plastic, perabot, penerangan rumah, alas kaki, serta produk industri farmasi.

Sementara dari kinerja investasi, Australia termasuk dalam 10 besar realisasi investasi PMA pada triwulan 3 Tahun 2017. Adapun realisasi PMA tersebut sebanyak 28 proyek dengan nilai dolar AS 17.794,4 ribu. Sementara negara yang paling besar investasi PMA di Jatim adalah Singapura.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved