Lapor Cak
Sepinya UPT Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI di Bandara Juanda
Di bandara Juanda, tersedia layanan untuk mendata TKI yang baru tiba dari tanah air. Namun, layanan ini hampir-hampir tak diminati TKI. Kok bisa ya?
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Eben Haezer Panca
Hampir semua TKW yang baru tiba dari luar negeri itu memang berpenampilan lain. Terutama Mereka yang sudah terbawa budaya Hongkong. Penampilan modis dengan gaya rambut dan pakaian yang mencolok.
Disnakertrans tidak ingin kehilangan momen kepulangan para pahlawan devisa itu. Mereka harus mencatat kedatangan para TKI itu.
Selain yang karena mendapat cuti, ada pula TKI yang memang habis masa kontrak kerjanya. Disnakertrans mencatat saat Lebaran kemarin Ada 400-an TKI yang habis kontraknya.
Saat petugas mendata, para TKI itu sudah tak sabar ingin pulang. Mereka ditanya sudah berapa lama bekerja di luar negeri, melalui PT apa dan di Juanda dijemput siapa.
Semua dikerjakan masih sangat tradisional. Dicatat di kertas dan tidak di komputer. Semua dikerjakan manual dan lama.
Saat pertanyaan terakhir itulah, mayoritas TKW kaget apakah suaminya ikut menjemput. Rata-rata para TKW itu mengaku lupa-lupa ingat dengan wajah suaminya. Bahkan dengan anaknya juga wajahnya lupa.
"Saya dijemput keluarga. Mudah-mudahan tak lupa dengan wajah anak saya dan suami," ucap Ririn, TKW asal Tuluangung.
Para TKI itu rata-rata bekerja di atas 2 tahun. Kebanyakan bekerja di sektor informal atau pembantu rumah tangga. Gaji mereka jika bekerja melalui PJTKI yang resmi Rp 10 juta. Kalau di pabrik Rp 15 juta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tki-mudik-lebaran_20170623_000015.jpg)