Pemprov Jatim
Wagub Minta Pekerja Sosial Bekerja Kreatif, Inovatif dan Cerdas
“KREATIVITAS DAN INOVATIF sangat diperlukan. Selain itu, dalam bekerja, peksos tak hanya dituntut bekerja keras tapi harus cerdas,” terang Gus Ipul.
Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Wakil Gubernur Jawa Timur Drs H Saifullah Yusuf meminta para pekerja sosial (peksos) mampu bekerja kreatif, inovatif, dan cerdas.
Hal ini penting agar kinerja peksos bisa optimal di tengah keterbatasan yang ada, baik dari segi jumlah maupun anggarannya.
Di tengah keterbatasan yang dialami saat ini, tantangannya adalah bagaimana para pekerja sosial tetap bisa bekerja optimal.
“Karenanya, kreativitas dan inovatif sangat diperlukan. Selain itu, dalam bekerja, peksos tak hanya dituntut bekerja keras tapi harus cerdas,” terang Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Jatim, saat membuka Rapat Kerja Daerah (Rakerda) II Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia /IPSPI, di Aula Kantor Dinas Sosial Jatim, Jl Gayong Kebonsari, Surabaya, Jumat (3/3/2017).
Ia menambahkan, dengan adanya kemajuan teknologi memaksa semua pihak bisa bekerja cepat, tak terkecuali peksos.
Oleh sebab itu, keberadaan teknologi harus bisa dioptimalkan peksos, sehingga bisa memberi respons cepat ketika ada keluhan dari masyarakat.
Jika ada laporan terkait masalah sosial hari ini misalnya, maka tindak lanjutnya juga harus dilakukan pada hari yang sama.
Tuntutan teknologi saat ini adalah kecepatan, sebab siapa yang cepat akan bisa menjadi pemenang. Sebaliknya, meski besar tapi lambat maka akan kalah, ungkapnya.
Kreativitas dan inovasi peksos, lanjutnya, sangat dibutuhkan untuk bisa menangani potensi konflik yang ada di Jatim pada tahun 2016.
Di antaranya yakni adanya perselisihan buruh dengan perusahaan, konflik Syiah-Sunni, konflik tanah, dan potensi bencana alam seperti banjir dan longsor.
Apalagi, ada enam fakta isu sosial tahun 2016 yakni adanya geng motor, gerakan LGBT, kelompok agama baru, tawuran pelajar, krisis identitas bangsa, dan pemahaman yang kurang tepat atas HAM dan demokrasi.
“Melihat berbagai potensi konflik dan isu sosial yang beredar saat ini, dibutuhkan pekerja-pekerja sosial yang profesional di bidangnya. Profesional itu juga harus ditunjang dengan adanya sertifikat yang dimiliki peksos,” terangnya.
Menurutnya, terkait kurangnya jumlah tenaga peksos di Jatim memang masih menjadi kendala, namun jumlah yang ada akan diefektifkan kerjanya.
Salah satu caranya dengan terus menambah keterampilan, serta melakukan sertifikasi pada para peksos.
Selain itu, para peksos profesional bisa membentuk kader-kader di daerahnya sehingga bisa membantu tugasnya.

