Liputan Khusus Dolly Face Off
Dulu, Wisma Ini Selalu Dikunjungi Pria Hidung Belang, Kini jadi Jujugan Konsumen Sepatu
Dalam beberapa kesempatan pelatihan, anggota UKB Mampu Jaya selalu mengajak para eks-PSK belajar menjahit.
Penulis: Benni Indo | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Dulu Wisma Barbara terkenal sebagai rumah prostitusi terbesar di Gang Dolly. Gedung dengan enam lantai itu memiliki ratusan kamar.
Dari penuturan warga sekitar, saat masih beroperasi, wisma itu banyak dikunjungi pencari kepuasan. Tapi, kini kondisi berbeda.
Wisma itu tidak lagi menjadi tempat pelayanan prostitusi sejak lokalisasi Dolly ditutup pada 2014.
Wisma Barbara berubah menjadi pabrik sepatu yang digerakkan Kelompok Usaha Bersama (UKB) Mampu Jaya.
Dalam sebulan, UKB Mampu Jaya memproduksi hingga 150 pasang sepatu dan sepatu sandal. Jika pesanan sedang membanjir, produksinya bisa lebih tinggi lagi.
Atik (35), Ketua KUB Mampu Jaya mengatakan, saat ini hanya ada delapan orang yang berkarya di industri pembuatan sepatu itu.
Ketika awal berdiri, sebetulnya banyak yang bergabung, namun satu per satu mulai pergi hingga tersisa delapan orang saat ini. “Dulu ada belasan anggota,” jelasnya.
Sepatu jenis pantofel yang dipaling banyak diproduksi. Biasanya pemesan adalah PNS di lingkungan Pemkot Surabaya.
Dari penuturan Atik, dalam sebulan mereka bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 3 juta.
Di lantai bawah bekas wisma itu ada puluhan jenis mesin jahit hingga mesin pencetak sepatu.
Dalam beberapa kesempatan pelatihan, anggota UKB Mampu Jaya selalu mengajak para eks-PSK belajar menjahit.
“Kami selalu mengajak mereka berdaya,” kata Atik. Memang masih ada beberapa PSK yang masih tersisa. Mereka tinggal di rumah kos milik warga.
Daripada mereka menganggur, para anggota UKB Mampu Jaya mengajak mereka membuat sepatu.
Kehadiran UKB disyukuri oleh Atik dan anggotanya. Sebelum ada UKB Mampu Jaya, Atik berjualan baju di kawasan Dolly. Menurutnya, memang penghasilan menjual baju lebih besar dibanding membuat sepatu.
Namun, ia mengambil sisi positif dari hadirnya UKB Mampu Jaya. Meskipun pendapatannya tidak banyak dibanding berjualan baju ketika lokalisasi berjaya, tapi bekerja di UKB Mampu Jaya lebih pasti dibanding jualan baju.
“Kalau jualan baju dulu banyak orang yang utang. Sedangkan ini kan pasti, siapa pembelinya, siapa yang memesan,” paparnya.
Atik juga meyakini, seiring berjalannya waktu serta bantuan pemerintah, suatu saat nanti UKB Mampu Jaya akan tumbuh lebih besar.
Ia berharap, wisma yang besar itu menjadi pusat UKM. Jadi seluruh jenis UKM berada di sana, sehingga ketika orang berkunjung bisa menuju ke satu titik.
“Lebih enak sekarang," katanya mengomentari suasana Dolly yang sudah tidak jadi tempat prostitusi lagi.
Desyanti, pendamping UKB Mampu Jaya juga merasa senang bisa berkumpul dengan ibu-ibu lainnya. Ia melihat betapa semangatnya ibu-ibu itu bekerja.
Ia pun merasa beruntung karena bisa belajar bersama dengan mereka. “Mereka kreatif dan kerja keras,” paparnya.
Terkait dengan penjualan sepatu, dijelaskan Desyanti, saat ini yang memesan paling banyak memang PNS. Tapi, tidak menutup juga melayani pemesanan dari pihak lain.
Intinya, siapapun boleh memesan sepatu. “Dulu, sepatu Bu Risma saat dilantik juga buatan sini,” tambahnya.
Sementara itu, Diyantono (45) pekerja sosial dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Diperdagin) Kota Surabaya meminta agar Pemkot Surabaya betul-betul tegas jika ingin membuat Dolly bebas dari prostitusi.
Pasalnya, menurut Diyantono, masih ada beberapa eks-PSK yang tetap berada di Dolly. Mereka bisa membuat kesan lain jika diketahui banyak orang. “Kalau mau dibersihkan, bersihkan semuanya,” sarannya.
Saat ini, banyak bekas wisma yang dijual. Wisma itu kalau dibeli Pemkot Surabaya bisa diubah menjadi sentra UKM.
Diyantono berharap itu bisa terjadi karena sayang jika dibiarkan kosong. Bahkan, ada beberapa kamar wisma yang masih disewakan dengan tarif Rp 30.000 per jam.
Beberapa wisma yang dijual itu di antaranya Wisma Srikandi No 39. Wisma Hollywood No 26, Wisma Rilek No 15 Wisma Santai No 28 serta Wisma Top 92.
“Pemkot jangan tutup mata. Rumah-rumah harus dibeli semua. Setelah itu, pemkot nyicil ke pemprov. Jadi Dolly, UKM semua, jadi enak,” ujar lelaki asal Surabaya itu.
Banyak pihak mendukung perubahan yang terjadi di kawasan ekslokalisasi Dolly. Namun, mereka juga berharap kerja sama dengan pemerintah agar kehidupan yang lebih baik di kawasan itu terwujud.
Hanya perlu waktu saja untuk membuat Dolly yang semula pusat prostitusi berubah menjadi pusat kerajinan warga Surabaya.
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA