Lapsus Gagal Ginjal

Gara-gara Sering Jajan di Sekolah, Rizky Kena Gagal Ginjal dan Harus Cuci Darah

Berdasar catatan RSUD Dr Soetomo Surabaya, 5 tahun terakhir, pasien cuci darah dari kalangan anak-anak meningkat. Rata-rata berusia 10-12 tahun.

Gara-gara Sering Jajan di Sekolah, Rizky Kena Gagal Ginjal dan Harus Cuci Darah
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Sejumlah anak melihat-lihat contoh makanan yang mengandung bahan berbahaya pada acara Roadshow Kampanye Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) bertema Sehatnya Duniaku, Menuju Generasi Emas yang Sehat dan Berkualitas di SDN Karang Pawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis (14/3/2013). Kampanye PJAS 2013 yang diselenggarakan Badan POM RI ini diisi dengan kegiatan edukasi memilih jajanan sehat kepada para siswa dalam bentuk pemutaran film, penyuluhan edukasi kepada para pedagang jajanan anak yang ada di lingkungan sekolah, dan uji laboratorium terhadap jajanan yang dijual di sekitar sekolah. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pasien gagal ginjal kini tidak hanya didominasi orang dewasa, melainkan juga anak-anak. Bahkan, berdasar catatan RSUD Dr Soetomo Surabaya, dalam lima tahun terakhir, pasien cuci darah (haemodialisa) dari kalangan anak-anak meningkat.

Salah satu penyebab anak menderita gagal ginjal adalah kebiasaan jajan tidak sehat. Jajanan anak banyak mengandung zat berbahaya yang bisa mempengaruhi fungsi organ tubuh.

Salah satunya Muhammad Rizky Hari (11), bocah asal Sidoarjo yang harus cuci darah dua kali seminggu di RSUD Dr Soetomo.

Ny Samini (41), ibu anak kelas 4 SD itu, Minggu (31/1), mengaku awalnya ia tidak tahu apa yang dimakan anaknya saat di sekolah. Namun, begitu anaknya kena ginjal, ia mendapat penjelasan bahwa Rizky gagal ginjal karena sering mengonsumsi makanan dan minuman berwarna di sekolah.

Sebelum masuk ke RSU dr Soetomo, Rizky sakit selama empat hari. Saat diperiksakan ke dokter, Rizky diduga kena tipus. Lalu dibawa ke RS Siti Khadijah Sidoarjo. Selang beberapa waktu, Samini dikagetkan oleh keterangan petugas medis bahwa anaknya gagal ginjal.

Rizky lantas dirujuk ke RSU dr Soetomo. Sorenya, ia menjalani pemeriksaan dan dilanjutkan cuci darah. Setelah itu, Rizky langsung diopname di Ruang Perawatan Bona RSU dr Soetomo hingga sekarang.

Kini, setiap hari Rizky menghindari makanan berwarna. Selama berada di RSUD Dr Soetomo, asupan makanan yang diberikan berbahan alami.

Dalam waktu dekat ini, rencananya Samini akan mengikuti pelatihan Continues Ambulatory Peritoneum Dialysis (CAPD) atau cuci perut. Dengan CAPD, Rizky bisa cuci darah di rumah dengan bantuan orangtua.

Senasib, Ahmad Ahwani (12) siswa kelas 6 SD asal Lumajang juga harus cuci darah di RSUD Dr Soetomo. Menurut ibunya, Isdiani (37), anaknya harus cuci darah dua kali seminggu sejak 20 Desember 2015. Awal masuk di RSUD Dr Soetomo, cuci darah dua hari sekali, lalu menjadi tiga kali seminggu.

Cerita berawal ketika Isdiani menemani Ahwani berlibur sekolah ke Mojokerto. Tiba-tiba Ahwani mengeluh sakit dan batuk-batuk. Isdiani lantas membawa anak pertamanya itu ke rumah sakit terdekat.

Halaman
1234
Editor: Rahadian Bagus Priambodo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved