Sabtu, 2 Mei 2026

Lapsus Gagal Ginjal

Gara-gara Sering Jajan di Sekolah, Rizky Kena Gagal Ginjal dan Harus Cuci Darah

Berdasar catatan RSUD Dr Soetomo Surabaya, 5 tahun terakhir, pasien cuci darah dari kalangan anak-anak meningkat. Rata-rata berusia 10-12 tahun.

Tayang:
Editor: Rahadian Bagus Priambodo
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Sejumlah anak melihat-lihat contoh makanan yang mengandung bahan berbahaya pada acara Roadshow Kampanye Pangan Jajanan Anak Sekolah (PJAS) bertema Sehatnya Duniaku, Menuju Generasi Emas yang Sehat dan Berkualitas di SDN Karang Pawulang, Jalan Karawitan, Kota Bandung, Kamis (14/3/2013). Kampanye PJAS 2013 yang diselenggarakan Badan POM RI ini diisi dengan kegiatan edukasi memilih jajanan sehat kepada para siswa dalam bentuk pemutaran film, penyuluhan edukasi kepada para pedagang jajanan anak yang ada di lingkungan sekolah, dan uji laboratorium terhadap jajanan yang dijual di sekitar sekolah. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN 

"Sejak 5 tahun terakhir, jumlah pasien anak yang cuci darah meningkat. Sebelumnya, dalam setahun hanya ada 3-4 pasien, sekarang 5-10 pasien anak," kata dr Ninik kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Dalam dua bulan terakhir ini sudah ada empat pasien anak yang menjalani cuci darah di RSUD Dr Soetomo. Rata-rata mereka berusia 10-12 tahun. Mereka terkena penyakit ginjal kronik memasuki stadium 5.

Penyebab meningkatnya jumlah pasien anak gagal ginjal, menurut Ninik, selain kini BPJS Kesehatan sudah meng-cover cuci darah, juga pola makan yang salah. Sekarang banyak jajanan anak yang menggunakan bahan pengawet dan pewarna buatan.

Makanan tidak sehat itu berbahaya kalau dikonsumsi anak-anak secara terus-menerus.

Misalnya, makanan yang banyak mengandung kalsium. Anak-anak yang sering mengonsumi makanan seperti itu bisa terkena batu ginjal. Batu yang terus membesar itu bisa merusak fungsi ginjal.

"Saya tidak mau bicara banyak soal makanan. Karena bidang saya hanya ginjal anak. Memang pola makan yang salah bisa menyebabkan penyakit ginjal. Tetapi, jenis makanannya seperti apa, saya tidak bisa menjelaskan secara detail," ujarnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Menurutnya, pasien ginjal anak yang masuk ke RSUD Dr Soetomo rata-rata rujukan dari beberapa daerah. Pasien masuk sudah dalam kondisi terkena penyakit ginjal kronik stadium 5.

Ia tidak tahu persis apa penyebab awal pasien terkena penyakit ginjal kronik.

"Karena faktor penyebabnya banyak. Bisa karena kelainan genetik, infeksi pada usus, radang usus, dan pola makan tadi," katanya.

Meningkatnya penyakit ginjal pada anak juga menjadi sorotan dunia. Rencananya, pada peringatan Hari Ginjal Sedunia pada 10 Maret 2016 akan mengambil tema soal penyakit ginjal pada anak.

"Kami akan lebih banyak memberikan sosialisasi soal penyebab dan penanganan penyakit ginjal terhadap anak," ujarnya.

Kronis dan Akut

Penyakit ginjal ada dua macam, yakni, penyakit ginjal akut dan penyakit ginjal kronik. Penyakit ginjal akut merupakan penyakit ginjal yang terjadi secara tiba-tiba. Penyebabnya bisa karena obat-obatan atau setelah menjalani operasi. Penyakit ginjal akut ini bisa sembuh seperti semula.

Sedangkan penyakit ginjal kronik merupakan penyakit ginjal yang terjadi sejak lama.

Penyakit ginjal kronik ini bisa disebabkan peradangan pada usus, ginjal bocor, dan serangan penyakit lupus.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved