Tempo Doeloe
Catatan Petualang Jawa Tahun 1877 tentang Bromo dan Tengger
Kitab itu bernama Cariyos Purwalêlana karangan Purwalelana yang keliling Jawa dari Salatiga sampai Betawi, dari Semarang sampai Banyuwangi.
Di antara tempat tidur itu ada "totor" atau "padhiyang". Serupa tungku besar yang sekaligus untuk memasak.
Jika siang, apinya dibikin kecil. Jika malam, sebaliknya. Hawanya dingin banget.
Jika ingin bertamu, tak perlu menunggu dipersilakan. Tuan rumah tak akan peduli. Langsung masuk saja, meski belum kenal. Kalau mau begitu akan dianggap saudara.
Pintu rumah juga tak pernah dikunci, siang maupun malam. Tak ada maling.
Mereka menaruh harta bendanya di luar rumah, misalnya "kapal" (mungkin maksudnya tandu atau kereta) serta hewan peliharaan. Aman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/bromo-tempo-doeloe-tengger-wisatawan-eropa-era-kolonial_20151218_111741.jpg)