Tempo Doeloe

Catatan Petualang Jawa Tahun 1877 tentang Bromo dan Tengger

Kitab itu bernama Cariyos Purwalêlana karangan Purwalelana yang keliling Jawa dari Salatiga sampai Betawi, dari Semarang sampai Banyuwangi.

Catatan Petualang Jawa Tahun 1877 tentang Bromo dan Tengger
nationaalarchief
Warga suku Tengger jadi pengusung tandu untuk wisatawan Eropa di Gunung Beromo era Kolonial. Foto kanan, perempuan Tengger pra Kemerdekaan RI. 

Perjaka dan perawan Tengger sama-sama pakai "cunduk jungkat". Mungkin sisir kecil di kepala.

Jika perjaka naksir perawan, atau sebaliknya, tinggal cabut sisirnya lalu tunjukkan ke orangtuanya.

Jika orangtua tahu sisir anaknya dibawa lawan jenisnya, dia segera mafhum mereka sudah berkasih-kasihan.
Musyawarah antar orangtua segera digelar, lalu dilangsungkanlah perkawinan.

Di Tengger tak ada dukun spesialis penyakit. Jika ada orang sakit, cukup minum air atau diusapi air dari wadah tembaga yang keramat.

Jika ada orang mati yang rumahnya dekat kawah, mayatnya dimasukkan ke kawah itu.

Jika rumahnya jauh, mayatnya cukup "kasetrakaken". Setra berarti "kubur tan kapendhem" atau dikubur tanpa terpendam.

Pemerintah Belanda melarang kedua perlakuan itu. Mereka suruh kubur mayat, bagian kepala mengarah ke kawah persemayaman Bathara Brama.

Rumah wong Tengger panjang-panjang. Pintunya cuma satu di bagian sudut.

Pada dinding kiri dan kanan bagian dalam dipasang "amben", tempat duduk memanjang.

Pada bagian ujungnya untuk tempat tidur. Ada dua tempat tidur berhadap-hadapan.

Halaman
1234
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved