Tempo Doeloe

Catatan Petualang Jawa Tahun 1877 tentang Bromo dan Tengger

Kitab itu bernama Cariyos Purwalêlana karangan Purwalelana yang keliling Jawa dari Salatiga sampai Betawi, dari Semarang sampai Banyuwangi.

Catatan Petualang Jawa Tahun 1877 tentang Bromo dan Tengger
nationaalarchief
Warga suku Tengger jadi pengusung tandu untuk wisatawan Eropa di Gunung Beromo era Kolonial. Foto kanan, perempuan Tengger pra Kemerdekaan RI. 

Karya itu merupakan sebuah rekaman budaya dan masalah-masalah sosial masyarakat setempat, misalnya tata cara adat, ataupun tradisi masyarakat Semarang, Betawi, dan Bogor sampai Tengger.

Berkat Yayasan Sastra Lestari di Solo atau Surakarta, kitab beraksara dan berbahasa Jawa itu telah disalin dalam aksara Latin. 

Saduran dalam aksara Latin itu mengikuti konvensi penulisan Bahasa Jawa: lafal 'O' musti ditulis 'A'.

Maka, abjad Jawa honocoroko mesti ditulis hanacaraka. Bromo jadi Brama. 

Berikut ini adalah tafsir sebagian dari pokok-pokok cerita dalam kitab tersebut:  

Gunung Brama masuk wilayah Karesidenan Prabalingga (kini dieja Probolinggo). 

Di Ngadisari sudah ada orang Belanda partikelir kelola kebun, juga losmen.

Dalam rumah orang Tengger ada "pawon tosan" untuk melawan dingin.

Pawon berarti dapur, tosan artinya besi. 

Wong Tengger sekali setahun buang aneka barang ke kawah untuk memujikan Bathara Brama. Kasada.

Halaman
1234
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved