Jumat, 10 April 2026

Pilbup Sidoarjo

Sederet Gejala Koalisi Sidoarjo Bersatu Ternyata Tidak Bersatu

"Ada nama calon yang tidak mendaftar tiba-tiba diangkut partai koalisi. Ini masalah," ujarnya, Selasa (21/7).

Penulis: Miftah Faridl | Editor: Yuli
miftah faridl
Para petinggi enam partai Sidoarjo yang menyatakan komitmen berkoalisi hadang Abah Ipul dalam Pilbub Sidoarjo mendatang. 

SURYAco.id | SIDOARJO - Manuver sejumlah petinggi Koalisi Sidoarjo Bersatu menuai pertanyaan. Beberapa kalangan mempertanyakan eksistensi koalisi ini karena manuver elit partai itu membuat pecah koalisi.

Menurut Muhammad Sholeh, salah satu kontestan calon bupati dari KSB, manuver para petinggi partai di koalisi membawa koalisi ini ke ambang kehancuran.

"Ada nama calon yang tidak mendaftar tiba-tiba diangkut partai koalisi. Ini masalah," ujarnya, Selasa (21/7/2015).

Dia merujuk pada sosok Hadi Sutjipto atau Pak Cip yang dibawa PDIP. Saat ini, Pak Cip menjadi kadidat terkuat dan dipasangkan dengan Abdul Kholiq yang berlatar belakang PKB.

Gejala tidak bersatunya koalisi juga terlihat ketika petinggi partai lain tak mau kalah dengan mengusung dirinya sendiri.

"Saya sudah dengar Pak Warih Andono (Ketua DPD Partai Golkar Sidoarjo) merangkul Pak Imam Sugiri (Ketua DPD PAN Sidoarjo). Kok saya yakin manuver PDIP dan dua partai ini berjalan sendiri-sendiri tanpa koordinasi di internal KSB," ujar pria berprofesi sebagai pengacara itu.

Ketua Tim Penjaringan KSB, Emir Firdaus juga menyangkan manuver ini. Dia menilai penjaringan yang dilakukan selama ini tidak membuahkan hasil apa-apa.

"Sampai saat ini koalisi tidak pernah bertemu membahas pencalonan. Semua dilakukan sendiri-sendiri," kata dia.

Melihat kondisi ini, Sholeh akhirnya merangkul Sunartoyo, politisi dari PAN. Sholeh mengaku mau dijadikan wakil bupati untuk mendapingi pengurus DPP PAN itu.

Dia menilai, peluang Sunartoyo mendapatkan rekomendasi dari DPP lebih besar ketimbang Imam Sugiri.

Saat ini, Sholeh fokus pada rekomendasi dari DPP Gerindra. Posisi Sholeh memang riskan.

Pasalnya ada satu nama pesaingnya yakni Utsman yang didukung oleh Ketua DPC Gerindra Sidoarjo, Mohamad Rifai dan Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno.

"Besok (22/7) saya akan ke DPP untuk bertanya sejauh mana rekomendasi ini. Pasalnya, pendaftaran calon oleh KPUD hanya menyisahkan empat hari. Saya pikir Gerindra Sidoarjo lambat dalam bersikap. Tidak jelas arah koalisinya," kritik Sholeh.

Karena itu, dia berharap Gerindra berkoalisi dengan PAN untuk mengusung calon sendiri. Bagi Sholeh ini peluang karena dua pasang calon incumbent sibuk berebut suara Nadliyyin. Sedangkan suara kaum menengah dan pekerja tidak pernah digarap.

Sementara itu, Imam Sugiri enggan berkomentar panjang seputar rekomendasi DPP.

"Saya hanya menunggu. Siapa yang diputuskan DPP, ya saya tunduk. Tapi kalau saya yang dipercaya, sudah semestinya saya siap," kata dia.

SURYA belum bisa mendapatkan konfrmasi dari Sunartoyo dan Mohamad Rifai. Rifai sempat membalas pesan pendek SURYA namun enggan membalas ketika diminta untuk wawancara. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved