Kereta Api

Aktivis Pecinta Kereta Api Mulai dari Dokter, Dosen, sampai Anak SD

#SURABAYA - Naik kereta itu begitu asyik, seperti saat masuk terowongan, melintasi hamparan hijau sawah, tambak, dan bisa jalan-jalan di gerbong.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Yuli
faiq nuraini
Kampanye cinta kereta api dan komuter di Stasiun Gedangan, Sidoarjo, Selasa (2/6/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Suasana Stasiun Gedangan, Sidoarjo, lebih semarak saat libur, Selasa (2/6/2015).

Sebuah maskot besar berbentuk lokomotif berdiri di tengah-tengah calon penumpang. Sesekali, tangan maskot ini menyalami setiap calon penumpang KA.

Lambaian dan gerakan tangan maskot ini begitu unik dan menarik. Karena lucu, banyak penumpang anak-anak berebut salaman dengan maskot loko tersebut.

Inilah maskot yang selalu setia dibawa para aktivis Komunitas Peduli dan Pecinta Kereta Api (Komuter) Surabaya.

Boneka besar berbentuk loko itu ternyata diperankan oleh Yonathan Kharisma, salah satu mahasiswa di Surabaya. "Apa pun selalu teman-teman lakukan demi mengedukasi setiap calon penumpang," kata Yonathan yang penuh peluh.

Yonathan bersama anggota Komuter Surabaya kemarin memang kembali turun jalan. Bersama belasan anggota komunitas, mereka datang ke Stasiun Gedangan sekadar menemani calon penumpanh di stasiun.

"Kami sebenarnya mengagendakan gathering bareng kominitas pecinta kereta api lainnya. Biasanya kami barengi dengan ikut bersih-bersih stasiun juga," kata Haryo Bayu, salah satu pentolan Komuter Surabaya.

Komunitas Komuter Surabaya ini adalah sekumpulan orang-orang yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kereta api. Mereka tulus tidak saja mengedukasai masyarakat, tapi juga memberi contoh peduli akan fasilitas kereta.

Mulai dari bagaimana menjaga toilet tetap bersih, menjaga kran air tetap normal, sampai ikut membersihkan gerbang. Mereka juga tak henti-hentinya mengajak penumpang memiliki kepedulian yang sama. Kereta milik bersama.

Komunitas peduli dan cinta KA ini kini beranggotakan 80 orang yang terus aktif. Tidak saja aktif di lapangan, kumpul bareng, tapi juga di sosial media. Likers di sosmed komunitas ini hampir 2.000.

Awalnya, kelompok pecinta KA tersebut terbentuk dari beberapa orang yang hobi traveling atau pergi naik kereta. Tidak saja yang biasa naik KA eksekutif, tapi kelas ekonomi pun bisa bergabung. Awalnya mereka berbagi pengalaman melalui sosmed.

Begitu diposting di sosmed, makin banyak yang nimbrung. Saat jalan-jalan naik kereta sampai kumpul di viaduk, semua menjadi menu menarik. Akhirnya berkembang dan disepakati membuat komunitas Komuter ini pada 2009.

Saat ini, anggota komunitas ini mulai dari dokter, dosen, mahasiswa, pelajar, hingga anak SD. Sang dokter itu adalah drg Deddy Dhika Desmar, alumnus Unair. Begitu juga Pieter Jimanopo adalah dosen Universtias Ciputra dan Universitas Widya Mandala Surabaya.

"Sayang, beliau-beliau tidak bisa gabung untuk kesempatan kali ini. Namun, kami selalu kompak," kata Hari Nugroho, anggota Komuter.

Sebagai komunitas yang aktif, mereka juga mengenal organisasi dan manajemen dengan baik. Namun jabatan mereka mengadopsi struktur yang ada di PT KAI. Mulai dari kepalala Daops, masinis, sampai jabatan-jabatan lain.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved