Jatim Darurat Kanker Serviks
Istri Izin ke Suami, Ikut Deteksi Kanker Serviks Supaya Lebih Joss
Ibu dua anak ini mengikuti tes IVA seizin suami, Sugiyono. “Saya bilang dengan ikut tes ini, nantinya bisa semakin joss,” tuturnya.
Kampanye deteksi dini kanker serviks juga dilaksanakan oleh gerakan Bidadari. Menurut Ririe Suhadi, Presiden Gerakan Bidadari, sejak Januari 2015 lalu pihaknya telah menggelar program Surabaya Menuju Bebas Keputihan. Agenda itu mendorong perempuan-perempuan di Surabaya untuk menjaga kebersihan organ intim sehingga tidak sampai terjadi keputihan.
”Kanker serviks kan terjadi karena hal-hal sederhana seperti keputihan. Karena itu kami menggandeng LSM Pekerja Sosial Masyarakat Surabaya (PSMS) dan sosialisasi ke kelompok ibu-ibu, seperti di PKK,” kata Ririe.
Bidadari juga menggelar gerakan Generasi Muda Sehat (Gemas) yang membidik kelompok-kelompok pelajar dan memberikan edukasi seputar kanker dan kesehatan seksual serta reproduksi. ”Kanker serviks dimulainya sejak perempuan-perempuan masih usia muda. Insyaallah kalau mereka mulai sadar kanker sejak dini, risiko kanker serviks bisa ditekan,” tambahnya.
Upaya-upaya pencegahan kanker serviks melalui kampanye deteksi dini (tes IVA dan Papsmear), menurut pakar onkologi obstetri dan ginekologi RSUD Dr Soetomo, dr Hari Nugroho SpOG, akan lebih efektif apabila digerakkan oleh kelompok perempuan.
Sebab, banyak perempuan yang masih takut dan malu-malu mengikuti tes apabila pelaksananya adalah laki-laki. Maklum, dalam tes IVA maupun Papsmear, perempuan harus ”mengangkang”, membuka kakinya di depan dokter. ”Memang pemeriksaan pap smear pasien harus membuka kakinya. Prosedur ini tidak sakit dan tidak berdarah. Hanya dua menit,” katanya. Eben Haezer | David Yohanes
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kanker-serviks-mengangkang-dokter-pasien-pap-smear.jpg)