Jatim Darurat Kanker Serviks
Istri Izin ke Suami, Ikut Deteksi Kanker Serviks Supaya Lebih Joss
Ibu dua anak ini mengikuti tes IVA seizin suami, Sugiyono. “Saya bilang dengan ikut tes ini, nantinya bisa semakin joss,” tuturnya.
SURYA.co.id | SURABAYA - Gerakan membangun kesadaran untuk deteksi dini kanker serviks dipelopori puluhan ibu rumah tangga di Dusun Salak, Desa Gemarang, Kecamatan Kedunggalar, Ngawi.
Saat SURYA mengunjungi tempat itu akhir Januari 2014, mereka sedang antre mengikuti tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) yang diadakan Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Ngawi. Dalam hal ini, PDA setempat berkolaborasi dengan program MAMPU (Maju Perempuan Indonesia untuk Penanggulangan Kemiskinan) .
Program MAMPU adalah inisiatif bersama untuk pengentasan kemisikinan yang berbasis gender. Ini bentuk kolaborasi Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) bersama pemerintah Indonesia yang diwakili Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas). Program yang dimulai pada 2012 ini akan berakhir pada 2020.
Izin Suami
Satu demi satu pasien memasuki ruangan kecil. Di sana ada ranjang pasien, lemari kecil berisi obat-obatan, serta nampan aluminium yang salah satu isinya adalah spekulum. Peralatan itulah yang akan dipakai untuk tes IVA.
Di antara mereka ada Ny Nur Hidayati (43). “Pertama kali ikut tes ya ini tadi. Rasanya gemetar,” ujarnya.
Ibu dua anak ini mengikuti tes IVA seizin suami, Sugiyono. “Saya bilang dengan ikut tes ini, nantinya bisa semakin joss,” tuturnya. Hadirin pun tertawa riuh.
Meski suami mengizinkan, belum tentu juga sang istri mau. Ny Sri Lestari (36), misalnya, hingga kemarin belum berani ikut tes IVA. “Saya yang takut,” kata ibu tiga anak itu.
Belum semua perempuan usia subur di Dusun Salak mengikuti tes IVA. Dari sekitar 170-an rumah tangga, baru separo yang ikut tes IVA. Padahal, kader-kader Aisyiyah di sana telah bekerja keras untuk sosialisasi.
Kader Aisyah
Ny Bekti Ruliyanti, kader Aisyiyah, menyatakan ajakan tes IVA dilakukan via pertemuan-pertemuan rutin, diselipkan dalam aneka kegiatan seperti pelatihan keterampilan, bazar, pemberian fasilitas simpan pinjam, serta produksi aneka tas dari limbah plastik. "Saya belajar memahami kanker serviks dan cara menyebarkannya kepada perempuan desa menggunakan buku panduan,” kata Bekti sembari menunjukkan buku Kesehatan Reproduksi Perempuan.
Rasa takut para perempuan desa ini diketahui betul oleh Ny Suprapti, bidan dari Puskesmas Pembantu di Desa Gemarang. Kemarin, adalah kali kedua Ny Suprapti melakukan tes IVA untuk para perempuan yang dikoordinir Aisyiyah.
“Karena mereka masih takut-takut, saya harus benar-benar menyiapkan kondisi psikologis pasien sebelum diperiksa. Saya berharap semua perempuan di desa ini sadar akan pentingnya kesehatan reproduksi dan deteksi dini,” ujar Ny Suprapti.
Terpisah, Nelly Asnifati, Sekretaris PW Aisyiyah Jatim dan Koordinator Wilayah program MAMPU, dalam diskusi Jatim Darurat Kanker Serviks yang digelar Harian Surya, Kamis (5/3), menyebutkan Aisyiyah sudah berupaya maksimal mengajak masyarakat untuk melakukan deteksi dini kanker serviks.
”Kami sudah ajak masyarakat untuk tahu apa itu kanker serviks dam bagaimana cara mencegahnya sejak dini. Banyak kendala, tetapi pencapaian juga banyak. Selanjutnya kami akan semakin memperluas jaringan kami,” ucap Nelly.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kanker-serviks-mengangkang-dokter-pasien-pap-smear.jpg)