Lima Periode Perkembangan Marmer Tulungagung
Perajin semakin bebas berkreasi untuk menghasilkan produk seni berkualitas
Penulis: David Yohanes | Editor: Wahjoe Harjanto
Karya fenomenal Teguh Gondrong adalah patung Kuda Jingkrak. Karya ini paling sukses sehingga perajin lain mengadu peruntungan dengan menciptakan ribuan karya serupa. Hingga kini Kuda Jingkrak masih menjadi master piece patung marmer Tulungagung.
Dekade ke tiga juga ditandai kedatangan pematung dari berbagai kota, seperti Blitar, Mojokerto, Pacitan hingga dari Jogjakarta dan Solo. Kedatangan seniman patung asal Jogjakarta dan Solo juga punya andil dalam mengembangkan produk marmer Tulungagung. Terutama untuk aneka relief.
Saat itu warga juga mulai mengenal teknologi gergaji horisontal. Bermula dari kedatangan orang Italia yang memesan meja biliard ukuran besar dalam jumlah banyak. Namun ketika itu perajin terkendala teknologi pemotongan batu yang terbatas.
“Gergaji potong ketika itu ukurannya maksinal 1,3 meter saja dan bisa memotong batu dengan ukuran 90 Cm. Di atas itu masih belum mampu,” katanya.
Orang Italia itu yang kemudian memperkenalkan gergaji horisontal. Dengan gergaji horisontal, batu sebesar apa pun bisa dibelah dengan rapi. Warga mengenalnya dengan nama gergaji osrok karena suara “osrok-osrok” yang ditimbulkan.
Mesin ini mampu menghasilkan lempengan batu yang tipis dan berukuran besar. Gergaji horisontal sebenarnya sangat mahal. Namun para perajin berkreasi dengan menciptakan mesin sendiri. Mesin penggeraknya beli mesin bekas kapal laut di Surabaya. Sementara komponen lainnya mencari di penjual besi bekas atau loakan. Kreasi ini bekerja dengan baik dan menunjang perkembangan produk.
Booming produksi marmer Tulungagung banyak diminati penjual suvenir di Bali. Namun para turis asing banyak yang mencari marmer hingga ke produsennya. Alhasil, banyak di antara mereka yang datang ke Tulungagung dan melakukan transaksi tanpa perantara.
“Para perajin sudah mulai melakukan penjualan langsung ke luar negeri. Awalnya mereka memenuhi pesanan para wisatawan dari Bali,” kisah Imam.
Para perajin lokal ini mulai membangun showroom marmer dalam ukuran besar. Sementara di lain sisi, mulai muncul rivalitas di antara mereka. Rivalitas ini ditandai dengan munculnya patung-patung raksasa yang menjadi simbol kebanggan dan kemajuan usaha mereka, seperti gajah, sapi, kuda dan banteng.
Dekade ke empat perkebangan marmer Tulungagung antara Tahun 1992 hingga 2002. Di masa ini perajin mulai menggunakan aneka teknologi pabrikan, seperti bor duduk dan mesin grafir. Secara khusus, mesin grafir semakin menunjang pengerjaan patung dengan tingkat detail yang tinggi.
“Tenaga penggerak listrik semakin banyak digunakan, selain mesin diesel. Perajin semakin bebas berkreasi untuk menghasilkan produk seni berkualitas,” ucap Imam.
Dekade ini juga ditandai dengan persilangan produk. Sekitar Tahun 2000 misalnya, muncul tren produk marmer digabungkan dengan kerajinan cor logam dari daerah Klaten dan Sukoharjo Jawa Tengah. Persilangan produk ini sangat digemari pasar.
Selain cor logam, marmer juga banyak dipasangkan dengan kerajinan jati ukir dari Jepara. Persilangan produk ini bisa melambungkan harga hingga tiga kali lipat. Namun tidak banyak perajin Jepara yang mau bekerja sama dengan perajin marmer Tulungagung.
Pada akhirnya produk perpaduan cor logam dan marmer yang paling berkembang. Selain itu ditemukan mesin gergaji alur, yang menghasilkan varian produk marmer alur. Dari penelusuran Imam, mesin alur pertama kali dikenalkan oleh perajin bernama Aris dari Buret , Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat .
Bersamaan dengan itu, ditemukan juga varian marmer bakar. Marmer yang dibakar ini memunculkan motif sisa jilatan api di permukaannya, sekaligus mengubah warnanya. Kreasi ini banyak digemari konsumen mancanegara.