Pilgub Jatim 2013
Pengamat: Sikap Ngeyel Khofifah Ancam Karier Politiknya
Sikap ngotot Khofifah yang tidak mau menerima putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilgub Jatim 2013 diperkirakan menjadi boomerang.
Penulis: Mujib Anwar | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA – Sikap ngotot Khofifah yang tidak mau menerima putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sengketa Pilgub Jatim 2013 diperkirakan menjadi boomerang bagi Ketua Umum PP Muslimat NU tersebut.
Pengamat Politik Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Hariyadi mengatakan, dengan adanya putusan MK nomor 117/PHPU.D-XI/2013 yang menolak seluruh gugatan pasangan Berkah terkait sengketa Pilgub Jatim, karena tidak ada satupun dalil yang disampaikan Khofifah selaku pemohon terhadap termohon (KPU Jatim) dan termohon terkait, yakni pasangan Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) yang terbukti secara hukum, secara kelembagaan jalur yang terbuka bagi Khofifah untuk mengubah hasil Pilgub Jatim sudah tertutup dari kacamata hukum.
Sehingga yang dapat dilakukan Khofifah, jika dia tetap ngeyel dan ngotot menolak putusan MK adalah dengan melakukan gerakan politik, yakni mendelegetimasi pasangan terpilih, yakni KarSa. “Tapi untuk melakukannya, Khofifah harus punya argument yang kuat, punya jaringan sosial dan media yang kuat,” tegas Haryadi, kepada Surya, Rabu (9/10/2013).
Namun, langkah mendelegetimasi kemenangan KarSa itu bisa menjadi bomerang sendiri bagi Khofifah. Cagub yang dua kali gagal merebut Kursi Grahadi ini akan dianggap orang yang ambisius dan orang yang tidak bisa menerima kekalahan. “Jika itu terjadi, akan jadi petaka untuk karir politik Khofifah ke depan. Apalagi kalau dia ingin maju lagi dalam Pilgub ke depan (2019),” tandasnya.
Khusus jaringan media, Haryadi melihat saat ini jaringan mendia yang mendukung Khofifah, terutama media yang ada di Jakarta sudah menarik dukungannya. Pertimbangannya, media di Ibukota menganggap proyek Khofifah sudah selesai. “Saat ini yang tersisa tinggal memanfaatkan jaringan sosial, misalnya muslimat atau jaringan lainnya,” imbuhnya.
Terkait jaringan politik, Haryadi menilai tidak jelas. Meski dalam Pilgub kemarin pasangan Berkah diusung oleh PKB. Namun, dananya diback-up oleh faksi di salah satu partai besar yang mengusung KarSa. Tujuannya, untuk kepentingan Pemilu 2014. Dengan begitu, kaki politik oleh Haryadi dinilai belum jelas.
“Dia (Khofifah), jelas tidak mungkin bermain di dua kaki. Tapi selama ini kita semua tahu bagaimana track record-nya,” bebernya.
Dengan kondisi yang pelik itu, Khofifah, lanjut Haryadi mestinya melakukan instropeksi, mengapa tidak memperoleh dukungan dan simpati yang luar biasa seperti Pilgub Jatim 2008. “Tapi instropeksi itu tampaknya tidak dilakukan oleh Khofifah,” tukas Haryadi.