Rabu, 20 Mei 2026

Dari Rita Cookies Hingga Laritta

Langkah di dunia bisnis bakery dimulai dari ibukota, Jakarta. Rasa roti tart buatan Lim Rita Sari

Tayang:
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Rudy Hartono

”Pelanggan itu pasti baik, jika tidak mana mungkin memberi masukan,” ucap Rita sambil tersenyum. Komplain yang masuk pun dianggapnya sebagai dukungan untuk maju.

Bagi Rita, tanpa pelanggan pula yang membuat usahanya menjadi berkembang. ”Kuncinya itu sabar dan tidak mudah marah,” ucapnya kalem. Pelanggan yang kadang merugikan atau cerewet dihadapi dengan kesabaran.

Mengelola usaha yang terkadang membuat pikiran tegang diatasinya dengan bercocok tanam di rumahnya. ”Saya bekerja mulai pukul 08.00 sampai 17.00 sore. Setelah itu ya bersantai,” tuturnya tersenyum. Anggrek lah yang membuatnya tetap mampu mengendalikan emosinya.

Toko Roti yang Menarik

Kemasan, tampilan, dan penataan kadang juga dibutuhkan di samping kualitas rasa yang harus selalu dijaga. Memahami hal ini, Albert juga bereksperimen dan membaca buku tentang bakery untuk mendalami usahanya.

”Sempat sih kursus memasak sebentar dan selanjutnya ya berjalan sendiri,” ungkap suami Christine ini. Di samping itu, Albert kerap ikut demo memasak dan menonton televisi untuk menunjang kemampuannya.

Ini disebabkan sejak kuliah Albert sudah sering membantu ibunya mengembangkan usaha kue kering. Entah itu membeli bahan, membuat kue di dapur, atau mengirim pesanan.

Albert sangat disiplin mengatur waktunya. Bangun pukul 04.00 hingga 06.00 aktivitasnya adalah membantu ibu. Selepas itu dia berkonsentrasi kuliah di Jurusan Desain Grafis di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan Manajemen di Universitas Widya Mandala Surabaya.

”Pernah saya sampai diomongi ibu karena gagal membuat sus isi sosis. Marah sih nggak tapi ya begitu, kasih wejangan,” kelakar Albert.

Kala itu, Rita menerima pesanan ribuan kue sus. Ternyata Albert salah membeli jenis sosis hingga warnanya luntur dan kue pun tak tampak cantik.

“Dulu belum memakai supplier, jadi kami membeli bahan kue di supermarket. Nah, karena jenis sosis yang biasa dipakai habis, saya pun memilih jenis lain eh malah salah,” seloroh putra bungsu Rita ini.

Laritta berpusat di Jl Nias serta beberapa cabang yang ada di Jl Kutai dan Rungkut. Mereka buka mulai pukul 07.00 hingga 21.00 WIB. Pada 2013 mendatang, direncanakan akan membuka toko cabang baru di kawasan Wiyung.

Desain Laritta memang sangat menarik, penuh warna. Ini disengaja oleh Albert karena ingin membawa konsep toko roti yang cerah. Untuk menjaring pelanggan, digunakanlah Facebook dengan nama Laritta dan situs larittabakery.com.

”Orang jadi lebih mudah mengenal kami dan terkadang ada pula hadiah bagi mereka yang ulang tahunnya sama dengan Laritta,” papar Albert. Tidak lupa selalu berbagi dengan sesama di panti asuhan atau menyumbang masjid waktu Hari Raya Idul Adha.

Pola pemasaran Laritta berupa jemput bola. Jadi, tidak menunggu momen hari raya saja, tetapi agar penjualan harian berjalan maka Albert menawarkan kue ke perkantoran dan instansi pemerintahan juga.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved