Dari Rita Cookies Hingga Laritta
Langkah di dunia bisnis bakery dimulai dari ibukota, Jakarta. Rasa roti tart buatan Lim Rita Sari
Penulis: Marta Nurfaidah | Editor: Rudy Hartono
SURYA Online, SURABAYA - Kegemarannya membuat roti tart membawanya ke usaha bakery yang dikelola secara profesional bersama putranya, Albert Djaja Saputra (31).
Meskipun saat ini seluruh manajemen dipegang putra bungsunya tersebut, toko kue dan roti Laritta berawal dari tangan Lim Rita Sari (69).
Perempuan kelahiran 5 Oktober 1944 ini masih terlihat cantik dan fit di usianya ke-69 tahun. Senyum tak pernah sirna dari wajahnya meskipun gurat ketegasan tampak di sana. Pengalaman hidup yang membawanya sedemikian rupa.
Langkah di dunia bisnis bakery dimulai dari ibukota, Jakarta. Rasa roti tart buatan Lim Rita Sari tak disangka disukai banyak orang. Dari teman-teman sendiri, akhirnya pesanan datang hingga orang nomor satu di Indonesia.
”Saya membuat roti tart di rumah dan tidak ada toko. Lalu menyebar dari mulut ke mulut hingga dikenal para pejabat dan saya kirim juga ke beberapa toko roti di Jakarta,” kenang Rita, Sabtu (29/12/2012). Di masa itu, Rita mengirim tart ke mal Sarinah di Jl Panglima Sudirman, proyek Senen, dan Pancoran.
Sukses di Jakarta tak membuatnya lupa akan kota kelahirannya, Surabaya. Akhirnya, pada 1975, dia kembali ke Kota Pahlawan dan mengawali usaha barunya di bidang kecantikan. ”Saya membuka salon khusus perempuan setelah mengambil kursus di L’Frans,” ucap ibu dari tiga bersaudara ini.
Sesekali dia masih menuangkan keinginannya membuat kue. Namun, kali ini yang dibuat adalah kue-kue kering yang diberikan kepada pelanggan di salon. Ketika lebaran atau Natal, Rita memberi kue kering tersebut sebagai bagian ucapan hari raya.
”Itu terus berlanjut sampai pada 1998, saat krisis moneter, saya membuka usaha roti,” kata Rita. Boleh dikata ini tindakan nekat karena masa ekonomi yang sulit justru perempuan cantik ini memulai bisnis.
Bisnis berjalan dengan lancar hingga 2002, outlet Rita’s Cookies pun muncul. Rita sengaja memilih kue kering karena tahan disimpan. Perlahan-lahan pesanan berdatangan hingga Rita kewalahan membuatnya sendiri. Bersama pembantunya, dia memenuhi permintaan pembeli.
”Tambah lama tambah peminat, ya saya pun menambah karyawan,” ujar Rita. Bukan kue kering saja yang dibuat Rita saat itu, melainkan juga cake aneka rasa.
Selama menekuni usaha bakery tersebut, Rita mengaku tidak pernah sampai mengalami penurunan pesanan. Hanya saja pernah dalam kondisi ’stuck’, tidak mundur dan juga tidak maju. Dari sana, Rita membuat perubahan manajemen.
Pada 2010, Rita’s Cookies diubah menjadi Laritta. Sesuai dengan permintaan pelanggan, outlet dengan nama baru ini lebih banyak menyajikan varian kue, cake, kue kering, kue basah, dan puding. Sampai sekarang jumlahnya mencapai 144 jenis.
”Nama Rita’s Cookies kurang sesuai jika ditambah varian berupa cake dan puding,” kata Albert yang kini mengelola Laritta sepenuhnya.
Peran Rita tidak saja pada nama outlet yang tetap dipertahankan kemiripannya. Namun juga pada resep-resepnya yang masih diproduksi. Meski demikian, Albert harus menyesuaikan resep lama dengan kondisi sekarang untuk mengikuti perkembangan zaman dan gaya hidup.
”Bahkan ada resep yang diberi oleh pelanggan dan kami sesuaikan sebelum dijual di outlet,” kata Albert. Supaya tidak bosan, Albert bersama timnya menambah jenis kue setiap tiga atau empat bulan sekali.
Dekat dengan Pelanggan
Hubungan antara Rita dan pelanggan-pelanggannya sangat baik. Kritik dan masukan sering datang justru dari para pelanggan. Tidak heran bila dari Rita’s Cookies hingga menjadi Laritta masih banyak pelanggan setia yang terus berdatangan.