Citizen Reporter

Semangat Bersastra untuk Anak Muda

Majelis Sastra Urban (MSU) menggelar diskusi seni kedua bertajuk Surabaya di Mata Tukang Becak, Jumat (25/1/2019).

Semangat Bersastra untuk Anak Muda
citizen reporter/Dwi Alfian Bahri
Pembacaan puisi di sela diskusi seni kedua bertajuk Surabaya di Mata Tukang Becak, Jumat (25/1/2019). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Majelis Sastra Urban (MSU) menggelar diskusi seni kedua bertajuk Surabaya di Mata Tukang Becak, Jumat (25/1/2019).

MSU menghadirkan suasana lintas generasi. Komunitas yang bersekretariat di Galeri Surabaya itu mendaulat Mahdi Omdewo sebagai narasumber. 

Acara yang dihelat minggu terakhir setiap bulan itu dipandu Aris Rahman, penulis cerpen dari Universitas Airlangga.

Dalam diskusi yang berdurasi 2 jam itu, Mahdi mengatakan, dia menyempatkan waktu menulis di sela-sela jam kosong mbecaknya.

Hasilnya, Mahdi berhasil menerbitkan antologi puisi Pledoi Becakan. Kegigihan dan semangatnya dalam menulis puisi itulah yang menjadi alasan utama Mahdi dijadikan narasumber.

Acara yang dihadiri lebih dari 30 orang itu dibuka dengan musikalisasi puisi Arul Lamandau (gitar), Paksi (jimbe), dan Uyung (vokal). Komposisi mereka berhasil mengajak beberapa hadirin larut dan bernyanyi bersama.

Setelah itu, acara dilanjut dengan pembacaan puisi dari penyair generasi milenial, Dian Ayu Sari. Penyair yang duduk di kelas XI Akutansi SMK Kawung itu sukses membacakan dua puisi Mahdi, yaitu Alun-Alun Contong dan Jagir.

Dian berhasil melawan gugupnya walaupun di awal grogi itu tampak. Itu bukan masalah. Dian tetap mendapat gemuruh tepuk tangan dari penonton. Itu pengalaman pertama Dian tampil di acara sastra dan seni yang penontonnya mayoritas tidak dia kenal.

Dua puisi itu dimuat dalam antologi puisi yang diberi kata pengantar oleh Tri Rismaharini. Selain itu, Chrisman Hadi, Ketua Dewan Kesenian Surabaya juga hadir dan turut membacakan puisi.

Sebelum diskusi dimulai, Mahdi menunjukkan kreativitasnya yang lain. Dia memonologkan Pledoi Becakan sebagai pengantar.

Baik Mahdi atau Dian merupakan contoh kekuatan cinta. Keduanya berawal dari kecintaannya pada seni dan sastra, sehingga kelelahan dan kegugupan dapat diatasi dengan mudah dan nyaman. Apalagi, dalam bersastra dan berkesenian dibutuhkan ketekunan, keuletan, kreativitas, dan keberanian. Rasa cinta yang akan menggiring dan menyatukan itu semua.

Konsep utama MSU adalah menghadirkan generasi muda yang memiliki jiwa semangat tinggi. MSU akan memberi ruang bagi mereka yang ingin karyanya lebih dikenal orang. Dengan konsep diskusi seni dan penampilan seni, konsep utama itu akan coba digaungkan. Dengan sendirinya, masyarakat dapat lebih banyak pilihan tempat dalam berekspresi dan berkarya, baik untuk sastra atau seni.

Penulis : Dwi Alfian Bahri, Guru di SMP Kawung 1 Surabaya

Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved