Citizen Reporter

Mari Berbicara dengan Batik

Membatik seperti meditasi karena orang bisa memikirkan apa yang terjadi hari itu sambil menggambar motif batik atau mewarnai kain.

Mari Berbicara dengan Batik
ist

Jika melewati Fakultas Sastra Univesitas Negeri Malang (UM) setiap sore dalam beberapa minggu ini, akan terihat beberapa orang Amerika yang duduk di depan gedung. Kadang-kadang mereka memilih di bawah pohon sambil mengobrol dengan menggunakan bahasa Indonesia.

Mereka adalah mahasiswa dari program Critical Language Scholarship (CLS). CLS adalah salah satu program dari pemerintah Amerika Serikat untuk mahasiswa yang ingin belajar bahasa asing. Tahun ini ada 27 mahasiswa dari berbagai universitas dari negara bagian di Amerika sedang belajar bahasa Indonesia dengan guru-guru dari BIPA-UM.

Mahasiswa itu bukan hanya belajar Bahasa Indonesia, melainkan juga belajar tentang budaya Indonesia. Setiap Senin dan Rabu mulai Juni 2018 hingga Senin (20/8/2018), ada kelas-kelas elektif supaya mahasiswa bisa memperdalam pengetahuan mereka tentang budaya Indonesia.

Ada beberapa kelas elektif yang bisa mahasiswa CLS pilih, yaitu menari tradisional, gamelan, pencak silat, kuliner, dangdut, dan batik.

Ada lima mahasiswa yang mengikuti kelas batik setiap Rabu. Mahasiswa di kelas batik sudah belajar beberapa teknik untuk membuat batik, contohnya batik tulis dan batik cap.

Mahasiswa CLS tidak hanya belajar cara untuk membuat batik, tetapi juga mendapat banyak manfaat yang lain. Bagi sebagian mahasiswa yang mengikuti kelas batik, membatik itu seperti seni. Membatik bisa menenangkan diri.

Di kelas itu, sapaan mbak dan mas menjadikan peserta lebih akrab dan sesuai dengan kultur sapaan di Malang. Jonathan yang disapa Mas Jonathan juga mengikuti kelas batik. Dia juga setuju dengan batik yang bisa untuk menenangkan diri.

“Biasanya saya menggambar di kamar saya untuk menghilangkan stres, tetapi karena saya ikut kelas batik, stres saya sudah hilang,” kata Jonathan.

Membatik seperti meditasi karena orang bisa memikirkan apa yang terjadi hari itu sambil menggambar motif batik atau mewarnai kain. Itu yang dipelajari dari Isa, guru batik untuk program CLS. Wanita itu sudah beberapa kali mengajar batik kepada orang asing.

Di minggu pertama dan kedua, ia menggambar motif batik. Motif yang dipilih khusus dari Malang supaya bisa sekaligus mengajar budaya melalui seni.

“Tidak ada perbedaan besar antara mengajar batik kepada orang asing atau orang Indonesia. Orang Indonesia biasanya memakai motif daun atau bunga, tetapi orang asing lebih suka memakai motif lain yang biasanya ada di negara mereka,” kata Isa.

Mahasiswa CLS bisa mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari kelas batik selama program CLS, contohnya kesabaran. Biasanya ruangan di kelas batik berantakan selama mahasiswa membatik, tetapi belajar membatik itu menyenangkan.

Belajar bahasa asing itu juga rumit, padahal mahasiswa masih bisa bersenang-senang sambil belajar. Ketika membatik, senang bisa belajar bahasa sekaligus budaya.

Grace Wivell
Mahasiswa CLS Amerika di Universitas Negeri Malang
therationalpoet@gmail.com

Editor: Endah Imawati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved