Surya/

Bahaya Intai Jari Hiperaktif

Gejala Umum Kesemutan, Panas dan Mati Rasa Pada Jari

Bagi yang merasa tidak cukup hanya dengan tips memilih jenis gadget, pencegahan CTS disarankan menggunakan alat bantu.

Gejala Umum Kesemutan, Panas dan Mati Rasa Pada Jari
net
Penderita Carpal Tunnel Syndrome (CTS) memerlukan alat bantu penyangga untuk memulihkan kondisi tangan. 

SURYA Online, SURABAYA - Berdasarkan survei pasar terakhir yang dilakukan GfK Asia, pada tiga kuartal di 2013 saja, penjualan smartphone di Indonesia mencapai 14,8 juta unit dengan nilai 3,33 miliar dolar AS. Ini adalah angka terbesar di Asia Tenggara.

Smartphone yang digemari sekitar 27 persen adalah yang memiliki bentang layar di atas 4 inchi. Yang paling ngetren adalah ukuran 5,6 inchi hingga 6,99 inchi.

Padahal, ukuran tangan dan jari-jari orang Indonesia, umumnya tidak cukup untuk bisa menjangkau secara sempurna.

Posisi ini membuat otot tangan, persendian, dan pergelangan menjadi tidak proporsional saat memegang dan mengoperasikannya.

Bagi yang merasa tidak cukup hanya dengan tips memilih jenis gadget, pencegahan CTS disarankan menggunakan alat bantu.

Di antaranya, berupa CTS Splint. Alat ini berfungsi mengurangi kompresi atau tekanan pada pergelangan tangan yang lemah atau tertekan.

Jani Agung Prasetyo, owner perusahaan Jani Orthoprost yang menyediakan berbagai jenis alat bantu orthopedi bagi penderita cacat fisik, menyebut saat ini masyarakat memang masih awam dengan penyakit CTS.

Gejala-gejala umum yang mencakup gangguan sensorik seperti kesemutan, panas, dan mati rasa pada jari jemari, mereka anggap sebagai sesuatu yang biasa.

Padahal, apabila gejala-gejala itu berlangsung terus-menerus tanpa penanganan, penderita bisa mengalami gangguan motorik seperti menurunnya kemampuan mencengkeram, ibu jari melemah, jari-jemari bengkak, serta kehilangan kemampuan membedakan panas dan dingin.

Ujung-ujungnya, mereka harus melakukan operasi bedah untuk penyembuhan.

Menurut Agung Prasetyo, umumnya masyarakat baru menggunakan alat bantu CTS Splint setelah mendapat rekomendasi dokter.

Itupun baru dilakukan karena penyakit CTS yang dideritanya sudah tergolong akut.

Padahal, sebenarnya penggunaan alat bantu bisa dilakukan sejak dini dan tidak perlu menunggu rekomendasi dokter.

“Masalahnya memang selama ini, banyak masyarakat yang tidak tahu, apa itu penyakit CTS,” kata Agung, panggilan akrab Jani Agung Prasetyo, Rabu (14/5/2014).

Pemuda asal Semarang, Jawa Tengah, ini menyebutkan, selama ini para pengguna CTS Splint paling banyak adalah ibu-ibu rumah tangga berusia lebih dari 30 tahun.

Ini terjadi karena banyak pekerjaan ibu-ibu yang mengandalkan gerakan tangan dan jari-jari.

Misalnya mencuci secara manual,  menghaluskan bumbu model tradisional (ulek-ulek), menyeterika, mengetik, dan lain-lain yang berhubungan pergelangan tangan dan sendi-sendi jari.

Seiring tumbuhnya pengguna gadget, peta  serangan CTS juga berkembang. Remaja dan anak-anak sangat potensial terserang karena sangat akrab dengan penggunaan gadget(ben/idl)

Tags
gadget
Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help