Penutupan Program Studi
Kampus Swasta di Kota Surabaya Ogah Gegabah Hadapi Polemik Penutupan Program Studi Tak Relevan
Faktor yang menentukan relevansi bukan semata nama program studinya, melainkan kompetensi yang diajarkan.
Penulis: Febrianto Ramadani | Editor: Dyan Rekohadi
“Alhasil program studi tertentu seperti Sains dan teknologi dianggap lebih relevan khususnya dunia industri ketimbang prodi lain. Namun, proses di dalam kotak hitam itu sering kali tidak terlihat,” imbuh Hidayatullah.
Baca juga: Mendiktisaintek : Penambahan Prodi di Jawa Dibatasi, Kampus Diminta Evaluasi Jurusan Lama
Orientasi Kampus Berbeda -Beda
Dia juga berpendapat, pendidikan tinggi di Indonesia memiliki bentuk dan orientasi yang berbeda-beda, seperti Politeknik, institut, dan universitas.
Menurutnya, politeknik memang lebih berorientasi pada pendidikan vokasi dan kebutuhan kerja praktis.
Sementara universitas memiliki mandat yang lebih luas, bukan hanya menyiapkan tenaga kerja, tetapi juga mengembangkan ilmu pengetahuan, pemikiran kritis.
“Jika relevansi hanya diukur berdasarkan kebutuhan industri saat ini, menurut kami itu juga perlu hati-hati. Dunia industri sendiri berubah sangat cepat. Ada industri yang berkembang, tetapi ada juga yang meredup atau bahkan hilang,” ucapnya.
Hidayatullah berpesan kepada pemerintah, bahwa pendidikan tinggi tidak bisa semata-mata didesain hanya mengikuti kebutuhan industri jangka pendek.
“Kampus tetap harus menyiapkan lulusan yang adaptif, mampu belajar sepanjang hayat, dan siap menghadapi perubahan zaman,” tandas Hidayatullah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Mahasiswa-Universitas-Muhammadiyah-Surabaya.jpg)