Sabtu, 9 Mei 2026

SURYA Kampus

Startup Mahasiswa ITS Terangin Tembus Top 6 Global Challenge di AS

Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi energi terbarukan bernama Terang dan Angin (Terangin).

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
istimewa/Humas ITS
INOVASI - Tim Terangin ITS saat proses pemasangan turbin angin modular pada lahan pertanian, beberapa waktu lalu. Inovasi tersebut sukses membawa tim mahasiswa ITS masuk jajaran Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026 di San Diego University, Amerika Serikat. 
Ringkasan Berita:
  • Mahasiswa ITS ciptakan Terangin, sebuah teknologi energi angin-surya untuk lampu jebakan hama, masuk Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026.
  • Dengan sistem hemat biaya berupa microgrid sederhana, pondasi modular murah, rem otomatis tanpa listrik, serta pemantauan drone.
  • Dampak nyatanya, bisa hasilkan 2,1 kWh/hari, kurangi pestisida, tekan gagal panen, hemat puluhan juta rupiah, kini berkembang jadi startup.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Berawal dari keresahan petani terhadap ancaman hama yang kerap memicu gagal panen, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi energi terbarukan bernama Terang dan Angin (Terangin).

Inovasi tersebut sukses membawa tim mahasiswa ITS masuk jajaran Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026 di San Diego University, Amerika Serikat.

Manfaatkan Energi Angin dan Surya

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif menjelaskan, inovasi tersebut memanfaatkan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis. 

Ide itu berawal dari riset kompetisi yang terinspirasi dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk sebagai sentra bawang merah di Jawa Timur.

Baca juga: Mahasiswa ITS Kenalkan Zodiak Jawa Lewat Koleksi Perhiasan Artistik

Dalam pengembangannya, Hanif dibantu empat anggota tim inti lintas disiplin, yakni Rafi Pradana dan Rafi S Lamikan dari Teknik Mesin, Diah Ayu NurFadillah dari Statistika, serta Anindya Khoirunnisya dari Manajemen Bisnis.

“Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan sebuah PT sebagai legalitas,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).

Sistem Kerja Teknologi Terangin

Hanif menjelaskan, Terangin menggunakan sistem microgrid berbasis energi angin dan surya yang dirancang sederhana agar mudah dioperasikan petani. 

Sistem tersebut tidak bergantung pada teknologi rumit sehingga lebih mudah diterapkan di lapangan.

Selain itu, Terangin menggunakan pondasi modular non permanen yang diklaim mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih murah dibandingkan pondasi beton. 

Desain tersebut memungkinkan turbin dibongkar pasang dan dipindahkan sesuai kebutuhan petani.

“Inovasi ini fleksibel untuk lahan sewa maupun ketika petani ingin berpindah lokasi,” katanya.

Kembangkan Sistem Rem Otomatis

Tidak hanya itu, tim Terangin juga mengembangkan sistem rem otomatis bernama remin yang bekerja tanpa listrik maupun sensor. 

Sistem tersebut memanfaatkan dorongan angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri sehingga lebih hemat energi dan minim perawatan.

“Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS angkatan 2024 tersebut.

Untuk mendukung perawatan di area pertanian yang luas, Terangin memanfaatkan teknologi drone untuk pemantauan jarak jauh. 

Hasilkan Energi Besar

Teknologi itu memungkinkan tim mendeteksi potensi kerusakan lebih cepat tanpa perlu membongkar struktur turbin.

Rafi menambahkan, sistem Terangin mampu menghasilkan energi sebesar 2,1 kWh per hari.

Energi tersebut tidak hanya digunakan untuk lampu jebakan hama, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk irigasi hingga sprinkler tanaman.

“Penggunaan sistem ini memungkinkan petani mengurangi penggunaan pestisida secara signifikan sekaligus meningkatkan hasil panen,” tuturnya.

Hemat Puluhan Juta Rupiah

Menurutnya, penggunaan Terangin dapat membantu petani menghemat biaya hingga puluhan juta rupiah per hektare setiap musim tanam.

Risiko gagal panen akibat serangan hama yang sebelumnya mencapai sekitar 50 persen juga dapat ditekan.

“Pengurangan pestisida juga berdampak pada kesuburan tanah sehingga produksi meningkat,” tambahnya.

Perluas Pemanfaatan ke Wilayah Pesisir

Berkat inovasi tersebut, Terangin berhasil meraih hadiah sebesar 3.000 USD pada ajang Fowler Global Innovation Challenge 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Sabtu (2/5/2026) lalu.

Ke depan, tim berencana memperluas pemanfaatan energi angin ke wilayah pesisir.

Tak hanya berkembang sebagai inovasi riset, Terangin kini juga telah menjadi startup yang menghasilkan omzet hingga ratusan juta rupiah dari penjualan produk maupun hibah.

“Perkembangan ini membuktikan bahwa inovasi kami tidak hanya berhenti di kompetisi, tetapi juga berdampak nyata,” pungkasnya.

BACA BERITA SURYA.co.id LAINNYA MELALUI KANAL GOOGLE

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved