SURYA Kampus
Startup Mahasiswa ITS Terangin Tembus Top 6 Global Challenge di AS
Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi energi terbarukan bernama Terang dan Angin (Terangin).
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Mahasiswa ITS ciptakan Terangin, sebuah teknologi energi angin-surya untuk lampu jebakan hama, masuk Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026.
- Dengan sistem hemat biaya berupa microgrid sederhana, pondasi modular murah, rem otomatis tanpa listrik, serta pemantauan drone.
- Dampak nyatanya, bisa hasilkan 2,1 kWh/hari, kurangi pestisida, tekan gagal panen, hemat puluhan juta rupiah, kini berkembang jadi startup.
SURYA.CO.ID, SURABAYA – Berawal dari keresahan petani terhadap ancaman hama yang kerap memicu gagal panen, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi energi terbarukan bernama Terang dan Angin (Terangin).
Inovasi tersebut sukses membawa tim mahasiswa ITS masuk jajaran Top 6 Fowler Global Innovation Challenge 2026 di San Diego University, Amerika Serikat.
Manfaatkan Energi Angin dan Surya
Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder Terangin, Muhammad Hanif menjelaskan, inovasi tersebut memanfaatkan energi angin dan surya untuk mengoperasikan lampu jebakan hama secara otomatis.
Ide itu berawal dari riset kompetisi yang terinspirasi dari potensi angin di Kabupaten Nganjuk sebagai sentra bawang merah di Jawa Timur.
Baca juga: Mahasiswa ITS Kenalkan Zodiak Jawa Lewat Koleksi Perhiasan Artistik
Dalam pengembangannya, Hanif dibantu empat anggota tim inti lintas disiplin, yakni Rafi Pradana dan Rafi S Lamikan dari Teknik Mesin, Diah Ayu NurFadillah dari Statistika, serta Anindya Khoirunnisya dari Manajemen Bisnis.
“Awalnya riset untuk lomba, tetapi ketika ada yang membutuhkan dan ingin membeli, kami sadar perlu mendirikan sebuah PT sebagai legalitas,” ujarnya, Kamis (7/5/2026).
Sistem Kerja Teknologi Terangin
Hanif menjelaskan, Terangin menggunakan sistem microgrid berbasis energi angin dan surya yang dirancang sederhana agar mudah dioperasikan petani.
Sistem tersebut tidak bergantung pada teknologi rumit sehingga lebih mudah diterapkan di lapangan.
Selain itu, Terangin menggunakan pondasi modular non permanen yang diklaim mampu menekan biaya hingga delapan kali lebih murah dibandingkan pondasi beton.
Desain tersebut memungkinkan turbin dibongkar pasang dan dipindahkan sesuai kebutuhan petani.
“Inovasi ini fleksibel untuk lahan sewa maupun ketika petani ingin berpindah lokasi,” katanya.
Kembangkan Sistem Rem Otomatis
Tidak hanya itu, tim Terangin juga mengembangkan sistem rem otomatis bernama remin yang bekerja tanpa listrik maupun sensor.
Sistem tersebut memanfaatkan dorongan angin untuk memperlambat putaran turbin secara mandiri sehingga lebih hemat energi dan minim perawatan.
“Rem yang kami rancang tidak memerlukan listrik, lebih murah, dan sepenuhnya otomatis dibandingkan sistem lain yang membutuhkan pemantauan rutin,” jelas mahasiswa Departemen Teknik Mesin ITS angkatan 2024 tersebut.
| Untag Surabaya Hadirkan Kolaborasi Pendidikan dan Pelayanan Publik di Tarakan |
|
|---|
| RS Ubaya Gandeng KONI Jatim Perkuat Penanganan Cedera Atlet |
|
|---|
| Tak Langsung Ditutup, Unesa Beri Waktu Dua Tahun bagi Prodi yang Sepi Peminat |
|
|---|
| Binus Malang Gelar Edukasi Pentingnya Pilih Jurusan Kuliah untuk Kesiapan Dunia Kerja |
|
|---|
| Wamendag Dorong Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya Jadi Entrepreneur Global |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/Bantu-Petani-Lawan-Hama-dengan-Energi-Terbarukan.jpg)