Sabtu, 23 Mei 2026

SURYA Kampus

BEM Unesa Ajak Mahasiswa Kritis dan Dialogis Tanpa Anarkisme

Forum ini juga menghasilkan policy brief yang nantinya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan

Tayang:
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
istimewa/BEM Unesa
FGD - Focus Group Discussion (FGD) bertema Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis di Unesa, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa se-Surabaya yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya dan BEM Nusantara Jawa Timur. 

Ringkasan Berita:
  • Unesa gelar FGD bertema Kritis Dialogis No Anarkis bersama Aliansi BEM Surabaya & BEM Nusantara Jatim.
  • Forum menghasilkan rekomendasi kebijakan sebagai kontribusi nyata mahasiswa untuk bangsa.
  • Narasumber menekankan peran mahasiswa menjaga demokrasi dengan kritik solutif, dialogis, dan berbasis data.

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendorong mahasiswa untuk tetap menjaga budaya kritik yang cerdas, dialogis, dan tidak anarkis melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis”.

Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa se-Surabaya yang tergabung dalam Aliansi BEM Surabaya dan BEM Nusantara Jawa Timur. 

Forum ini juga menghasilkan policy brief yang nantinya akan disampaikan kepada pemangku kebijakan sebagai bentuk kontribusi nyata mahasiswa terhadap persoalan bangsa.

Ketua BEM Unesa, Birbik Arya Fairuzzamani, mengatakan mahasiswa harus tetap menjadi kelompok intelektual yang berani menyampaikan kritik, namun tetap mengedepankan etika dan solusi.

“Mahasiswa harus tetap menjadi kelompok intelektual yang berani menyampaikan kritik, tetapi dengan pendekatan yang argumentatif, solutif, dan tidak anarkis. Kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan, bukan sekadar kemarahan,” ujarnya kepada SURYA.co.id, Sabtu (23/5/2026).

Tanggung Jawab Moral

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton terhadap berbagai dinamika sosial dan politik yang terjadi saat ini. 

Ia menilai generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga demokrasi melalui budaya dialog dan diskusi yang sehat.

“Mahasiswa hari ini harus mampu menjaga nalar dialogis dalam menyikapi persoalan bangsa. Kritik itu penting, tetapi harus dibangun melalui diskusi, kajian, dan rekomendasi kebijakan yang berbasis data,” katanya.

FGD tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari unsur pemerintah, legislatif, dan akademisi, yakni Rizal Wahid selaku Staf Ahli Polkam RI, Imam Syafi’i anggota DPRD Kota Surabaya, serta Hikam Hulwanullah akademisi sekaligus Direktur Puskoper FH Unesa.

Mahasiswa Jadi Agen Perubahan

Kasubdit Pengembangan Ormawa Unesa, Tutur Djatmiko, mengapresiasi terselenggaranya forum tersebut.

Ia menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya menyuarakan aspirasi, tetapi juga mampu menawarkan solusi konstruktif bagi masyarakat.

“Forum seperti ini penting untuk membangun budaya intelektual di lingkungan kampus, sekaligus mengarahkan energi mahasiswa agar tersalurkan dalam bentuk diskusi yang sehat, produktif, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai pandangan dan kritik konstruktif dari peserta terkait isu sosial, demokrasi, hingga peran mahasiswa dalam menjaga stabilitas sosial dan intelektual.

Dari forum tersebut, peserta bersama narasumber merumuskan sejumlah poin strategis yang dihimpun dalam policy brief sebagai output utama kegiatan.

BACA BERITA SURYA.co.id LAINNYA DI GOOGLE

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved