Jumat, 8 Mei 2026

Di Balik Tren Cukup Nikah di KUA

Pelaku Usaha Wedding Bersuara, Tren Cukup Nikah di KUA' Dinilai Gerus Esensi Pernikahan

Pelaku industri pernikahan mulai menyuarakan kegelisahan terkait tren 'Cukup Nikah di KUA'

Tayang:
Penulis: Fikri Firmansyah | Editor: Dyan Rekohadi
Surya.co.id/Fikri Firmansyah
KOMPAK BERSUARA - Pelaku industri wedding di Surabaya kompak bersuara. Para vendor mulai dari dekorasi, WO, lighting, hiburan hingga catering menyuarakan kegelisahan atas tren pernikahan sederhana yang kian menguat di kalangan Gen Z, sekaligus mendorong lahirnya narasi positif agar esensi pernikahan sebagai momen sakral tetap terjaga.  

Ringkasan Berita:
  • Pelaku industri pernikahan mulai menyuarakan kegelisahan terkait tren 'Cukup NIkah di KUA'
  • Tren pernikahan sederhana yang cukup dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) kian menguat di kalangan Generasi Z.
  • Founder Mitra Flower & Decorations, Sumitro, membeberkan fakta penurunan angka pernikahan secara nasional yang berdampak langsung pada industri.

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Tren pernikahan sederhana yang cukup dilakukan di Kantor Urusan Agama (KUA) kian menguat di kalangan Generasi Z.

Pernikahan dimaknai cukup sah secara hukum dan agama, tanpa perlu perayaan besar.

Di balik pilihan tersebut, pelaku industri pernikahan mulai menyuarakan kegelisahan.

Mereka menilai, pergeseran ini bukan semata soal efisiensi biaya, melainkan juga berdampak pada hilangnya makna pernikahan sebagai peristiwa sakral yang seharusnya dirayakan dengan penuh sukacita.

Founder Whulyan Attire, Ayu Wulan, mengatakan Gen Z kini memiliki motivasi berbeda dalam memandang pernikahan.

“Banyak Gen Z yang memandang pernikahan sebagai acara yang penting sah saja. Intimate wedding, menikah di KUA, lalu selesai. Padahal pernikahan bukan sekadar perayaan satu hari atau pesta makan-makan,” ujarnya kepada Tribun Jatim dan Harian Surya. Selasa (10/2/26).

Menurut Ayu Wulan, pernikahan tetap perlu dihargai sebagai momen besar dalam hidup, tanpa harus selalu diidentikkan dengan kemewahan berlebihan.

“Yang ingin kami tekankan, pernikahan itu harus dirayakan dengan sukacita. Bukan karena takut menikah, bukan karena tekanan tren, tapi karena kesadaran akan maknanya,” tegasnya.
Ia juga menyoroti kuatnya pengaruh media sosial terhadap cara pandang generasi muda.

“Semua orang sekarang hidup di media sosial. Kalau narasi yang muncul adalah menikah cukup sah lalu jalan-jalan, lama-lama esensi pernikahan itu sendiri bisa hilang,” katanya.

Baca juga: Everlasting Wedding Experience, Kampanye Whulyan Angkat Kembali Makna Pernikahan di Kalangan Gen Z

Kegelisahan Merata di Kalangan Vendor

Pandangan serupa disampaikan Lita dari Visesa Wedding Organizer. Ia menyebut hampir seluruh pelaku usaha wedding menghadapi tantangan yang sama akibat perubahan perilaku konsumen.

“Hampir semua vendor menghadapi kegelisahan serupa. Tantangannya adalah bagaimana membuat pernikahan tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan,” ujarnya.

Menurutnya, banyak calon pengantin muda yang sebenarnya belum memiliki gambaran jelas soal pernikahan.

“Mereka datang tanpa bayangan. Setelah melihat, mencoba, dan mendapat edukasi, baru muncul gambaran wedding dream mereka,” katanya.

Lita menambahkan, Gen Z cenderung menyukai pengalaman langsung dan edukasi yang praktis.

Sumber: Surya
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved