Pembesaran Prostat Jinak, Masalah Kesehatan Pria yang Sering Terabaikan
BPH kerap menurunkan kualitas hidup secara signifikan jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Titis Jati Permata
Ringkasan Berita:
- Seiring usia bertambah, kondisi kesehatan yang dialami pria adalah pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
- Diagnosis dini pegang peran krusial dalam mencegah komplikasi jangka panjang akibat BPH
- Singapore General Hospital jadi salah satu pusat rujukan di Asia Tenggara dalam penanganan pembesaran prostat jinak. Prosedur minimal invasif kini populer, terutama bagi pria yang lebih muda dengan BPH ringan hingga sedang.
SURYA.co.id, SURABAYA - Pembesaran prostat jinak atau Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) merupakan salah satu kondisi kesehatan pria yang paling sering terjadi, terutama seiring bertambahnya usia.
Meski bukan kanker dan tidak mengancam jiwa secara langsung, BPH kerap menurunkan kualitas hidup secara signifikan jika tidak dikenali dan ditangani sejak dini.
“BPH memengaruhi sekitar 50 persen pria di atas usia 50 tahun, dan angkanya meningkat hingga sekitar 90 persen pada pria usia 80 tahun,” kata dr Edwin Jonathan Aslim, Consultant Urologist di Singapore General Hospital (SGH) dalam rilis yang dikirimkan pada SURYA.co.id, Senin (9/2/2026).
Tingginya prevalensi ini menjadikan BPH sebagai isu kesehatan publik yang penting, namun ironisnya masih sering dianggap sebagai bagian normal dari penuaan yang tidak perlu ditangani secara medis.
Faktor Penuaan Hingga Gaya Hidup
Menurut dr Edwin, pembesaran prostat jinak pada dasarnya merupakan proses alami yang berkaitan erat dengan penuaan.
“BPH sering kali merupakan bagian dari proses penuaan yang tidak selalu dapat dicegah sepenuhnya,” jelasnya.
Selain faktor usia, riwayat keluarga juga memainkan peran penting.
Pria dengan anggota keluarga yang memiliki riwayat BPH memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.
Meski demikian, faktor gaya hidup tetap memiliki pengaruh terhadap munculnya dan berat-ringannya gejala.
Edwin menekankan bahwa kebiasaan hidup sehat dapat membantu mengelola gejala BPH dengan lebih baik.
“Kami biasanya menyarankan pria untuk mengurangi konsumsi kafein dan alkohol, menghindari minum berlebihan terutama sebelum tidur, serta mengurangi asupan garam dalam makanan sehari-hari,” ungkapnya.
Kenali Gejala Awal BPH Sebelum Terlambat
Salah satu tantangan utama dalam penanganan BPH adalah kecenderungan pasien mengabaikan gejala awal.
Pada tahap awal, keluhan yang muncul sering kali ringan dan tidak menimbulkan rasa nyeri, sehingga dianggap tidak mengganggu.
“Pada tahap awal, gejala BPH bisa sangat ringan dan sering diabaikan karena belum menimbulkan ketidaknyamanan yang berarti,” ujar dr Edwin.
| MUI di Gresik Adakan Pelatihan Juleha dan Pengelolaan Daging Qurban Sehat dan Halal |
|
|---|
| Kritik Pedas Presiden BEM Ubhara Soal Nasib Prodi: Kampus Bukan Sekadar Budak Industri |
|
|---|
| Waspada Ledakan Emisi Metana di Surabaya, Eri Irawan: Segera Pilah Sampah dari Rumah |
|
|---|
| Sosok Guspi Waker, Pimpinan OPM yang Diduga Tembak Bocah Perempuan hingga Tewas di Tembagapura |
|
|---|
| Aktivis Mahasiswa Rumah Kebangsaan Jatim Minta Pemerintah Perbaiki Kurikulum, Bukan Main Hapus Prodi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/PEMBERSIHAN-PROSTAT-dr-Edwin-Jonathan-Aslim.jpg)