Selasa, 28 April 2026

SURYA Kampus

Untag Surabaya Bersama APTIKOM Jatim Gelar Workshop SPMI

Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal bertajuk Best Practice Keselarasan Implementasi SPMI dengan Instrumen Akreditasi LAM INFOKOM 2.1

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Titis Jati Permata
Surya.co.id/Sulvi Sofiana
WORKSHOP - Dekan Fakultas Ilmu Komputer UPN Veteran Jawa Timur, Novirina Hendrasarie sebagai salah satu narasumber Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bertajuk Best Practice Keselarasan Implementasi SPMI dengan Instrumen Akreditasi LAM INFOKOM 2.1 di Surabaya, Rabu (21/1/2026). Kegiatan ini menekankan pentingnya penyusunan standar dan indikator yang terukur sebagai fondasi utama pencapaian akreditasi Unggul bagi perguruan tinggi. 

Ringkasan Berita:
  • APTIKOM  Jawa Timur dan Untag Surabaya gelar Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di Surabaya, Rabu (21/1/2026). Kegiatan ini tekankan pentingnya penyusunan standar dan indikator terukur untuk pencapaian akreditasi Unggul perguruan tinggi
  • Workshop digelar sebagai respons penyesuaian instrumen akreditasi dari LAM INFOKOM versi 2.0 ke 2.1
  • Ke depan, APTIKOM Jawa Timur gelar workshop lanjutan husus penyusunan instrumen LAM INFOKOM 2.1 guna memperdalam aspek teknis bagi perguruan tinggi 

 

SURYA.CO.ID, SURABAYA - APTIKOM Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya menggelar Workshop Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) bertajuk Best Practice Keselarasan Implementasi SPMI dengan Instrumen Akreditasi LAM INFOKOM 2.1, Rabu (21/1/2026).

Kegiatan ini menekankan pentingnya penyusunan standar dan indikator yang terukur sebagai fondasi utama pencapaian akreditasi Unggul bagi perguruan tinggi.

Wakil Rektor I Untag Surabaya, Rr. Amanda Pasca Rini, mengatakan workshop tersebut dirancang untuk memberikan wawasan praktis, tepat, dan efisien dalam menyusun SPMI agar selaras dengan instrumen akreditasi terbaru. 

Menurutnya, penguatan SPMI harus dilakukan terlebih dahulu sebelum perguruan tinggi menyusun Laporan Kinerja Program Studi (LKPS) maupun Laporan Evaluasi Diri (LED).

“SPMI ini yang harus kita benar-benar perkuat dulu sebelum melangkah lebih jauh menyusun LKPS dan LED. Harapannya, setelah SPMI tertata dengan baik, perguruan tinggi bisa terakreditasi Unggul, minimal tiga tahun, dan syukur-syukur lima tahun,” ujarnya.

Respon Terbitnya Peraturan Menteri Terbaru

Amanda menjelaskan, workshop ini digelar sebagai respons atas adanya penyesuaian instrumen akreditasi dari LAM INFOKOM versi 2.0 ke 2.1 yang mengikuti terbitnya peraturan menteri terbaru.

Ia menilai pemahaman terhadap perubahan instrumen tersebut menjadi penting agar implementasi SPMI tetap relevan dan selaras dengan standar nasional.

Sementara itu, Ketua APTIKOM Provinsi Jawa Timur, Yoyon Arie Budi, menegaskan bahwa keselarasan antara SPMI dan instrumen akreditasi menjadi kunci bagi perguruan tinggi yang ingin unggul dan berkelanjutan.

Ia menekankan pentingnya menjadikan siklus PPEPP (Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan) sebagai roh dalam seluruh aktivitas tata kelola.

“Standar SPMI harus disusun selaras dengan kriteria akreditasi, audit mutu internal dilakukan berbasis data, dan setiap temuan ditindaklanjuti secara nyata dalam perencanaan serta penganggaran. Dengan cara ini, akreditasi bukan lagi kegiatan insidental, tetapi hasil alami dari sistem mutu yang berjalan konsisten,” jelasnya.

Paparkan Implementasi SPMI

Dekan Fakultas Ilmu Komputer UPN Veteran Jawa Timur, Novirina Hendrasarie sebagai salah satu narasumber memaparkan implementasi SPMI di institusinya yang telah diselaraskan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) Tahun 2023.

“SPMI itu harus punya standar, lalu standar tersebut memiliki indikator, dan indikator itu wajib terukur. Harus ada angka dan target yang jelas,” ungkapnya.

Menurut Novirina, keterukuran indikator menjadi kunci agar perguruan tinggi dapat merencanakan peningkatan mutu secara bertahap dan realistis.

Karena itu, pimpinan di tingkat universitas, fakultas, hingga program studi perlu menetapkan baseline sesuai dengan kekuatan masing-masing unit.

Sumber: Surya
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved